Kembalilah Tersenyum - 1

1/30/2008 07:05:00 PM / / comments (0)

Hari ini adalah sebuah perjalanan yang cukup melelahkan, kereta api yang ku naiki melaju dengan cepat, kereta api yang setiap harinya selalu dipenuhi dengan padatnya para penumpang yang hendak pulang menemui keluarganya yang menunggu kedatangan mereka. Suara para pedagang silih berganti bersorak-sorai sambil sahut-menyahut menjajakan dagangannya. Tampak para penumpang yang berdiri tak henti-henti menyibak peluh yang mengalir terus di permukaan wajah dan tubuhnya. Terlihat raut-raut iri melihat para penumpang yang duduk sambil tertidur pulas (..ups..sambil ngorok dan beriler lagi). Hilir mudiknya para pedagang, lalu lalangnya para penumpang yang turun dan naik, membuat suasana didalam kereta api semakin ramai.

Memang terkadang sering muncul rasa sebal dalam diriku karena kondisi kereta yang nyaris memprihatinkan, para pemilik tangan panjang (read : pencopet) selalu siap mengancam para penumpang yang lengah terhadap barang bawaannya dan perhiasan lainnya, bahkan aksi yang mereka lakukan terkadang secara terang-terangan mereka lakukan. Ditambah lagi dengan sesaknya penumpang yang sulit untuk bergerak, udara yang tidak bersahabat dengan berbagai aroma yang timbul. Tapi itulah sebuah realita hidup yang harus kuterima. Siapakah yang salah.. ??? yah..tapi tak ada gunanya mencari siapa yang salah hanya untuk menyalahkan, setiap pihak punya tanggung jawabnya masing-masing.

Tapi dibalik semua itu masih banyak hal-hal yang bisa membuat ku tersenyum dengan berbagai tingkah polah para penumpang yang berusaha melakukan sebuah hiburan sebagai bahan penghilang jenuh dan bosan.

Tak terasa hari mulai senja, matahari pun pun mulai merona memerah tampak tersipu malu, dengan perlahan ia tenggelam untuk menyinari bagian bumi yang lain, gelap pun mulai menghampiri menyelimuti hari ini. Tak lama kemudian kereta pun telah sampai di tempat tujuanku, kulangkahkan kakiku melangkah menuju istana mungil milik kedua Pohon Cintaku. Perlahan ku berjalan…dengan penat yang masih terasa di kakiku. Akhirnya sampailah aku di istana mungil itu dengan warna yang merona kekuning-kuningan menggambarkan kegembiraan ku saat itu.

Ternyata pintu istana itu tampak tak tertutup. "Assalamu’alaikum….."….ucapan yang pertama kali ku dendangkan, ku uratkan seutas senyuman dan tampak bidadari kecil "keponakanku" tertawa menjerit menyambut kedatanganku, kuhampiri ia dan seutas ciuman manis pun ia semaikan di pipiku, semua tertawa saat bidadari kecil itu menciumku, kusalami Ayahku, kakak-kakakku, tetapi ada sesuatu yang terasa kurang di sudut bangku ruang tamu, Ibuku dengan wajah yang sedikit redup tanpa seutas senyumpun terjulai dari bibirnya, kuhampiri ia dan ku genggam tangannya dan kucium dengan rasa sayangku. Memang sudah hampir dua bulan ini Ibuku sakit, ia hanya menghabiskan waktunya terbaring di tempat tidur. Tubuhnya lemas, senyumnya yang mulai luntur, keceriaan yang tak tampak lagi dari dirinya.

Dahulu ibuku adalah seorang yang Hebat, ia wanita yang Power Full, gigih, penuh semangat dengan bekerja membanting tulang untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Pagi sebelum kami terjaga ia sudah rapih bersiap berangkat untuk mencari sesuap nasi dengan merapihkan dan menggunting rambut orang-orang kebetulan profesi ibuku seorang tukar cukur, di temani ayahku karena ayahku seorang pedagang yang hampir setiap harinya berada di tempat keramaian. Dengan modal seadanya mereka mengais rezeki di rantau orang (oh..iya..Aku dari kelurga perantau dari Ranah Minang ). Menumpang dirumah orang itulah awal hidup keluargaku di Rantau.

Sebelum merantau, dahulu di kampong, ayahku terbilang pengusaha yang cukup sukses, sebagai seorang penyortir kerbau dalam jumlah yang lumayan banyak di pasar taranak ( tempat transaksi), saat itu boleh dikatakan ayahku sudah menjadi Bos karena sudah bermain dalam partai penjualan yang cukup besar. Dari situlah perekonomian keluarga ku mulai bangkit, pertama yang Ayahku lakukan adalah membangun gubuk kecil nan sudah reot. Ayahku sering bercerita dan terkadang ia sedih, karena ledekan dari warga kampung terhadap gubug Kakek dari Ibuku tempat ayah dan keluargaku tinggal itu merusak pemandangan kampung, sehingga sebaiknya di buang saja karena kebetulan gubug itu berada di pinggiran jalan, alhasil Ayahku harus menggeser gubug itu jauh kebelakang sehingga jarak gubug itu menjadi jauh dengan bibir jalan, karena memang ayah dan ibuku berasal dari keluarga yang sangat miskin, tetapi walaupun mereka miskin materi, mereka tidak miskin hati, tapi mereka kaya akan semangat.

Akhirnya gubug yang tadinya reot sekarang sudah kuat berdiri tak goyah lagi di tebas angin meskipun masih sederhana. Dan usaha ayahku pun semakin maju, tak lama berselang sebuah motor berwarna hitam pun neBenk..!! dengan genitnya di depan rumahku, yang sehari-hari di pergunakan Ibuku untuk mengantar sekolah kakak-kakakku, tak hanya si hitam, si merah pun ( sebuah motor ) ikut neBenk lagi di pekarangan. Saat itu kampung ku belum masuk listrik, ayahku lah yang membuat pancang listrik yang pertama (maklum..Bos..he3.."Afwan").

Tetapi ternyata Allah punya rencana lain buat keluargaku, Allah berkehendak lain, usaha yang telah dibangun ayahku dari bawah itu harus bangkrut karena kasus penipuan yang dilakukan oleh rekan usahanya. Akibatnya utang kesana-kemari. Jual ini dan itu. Bangkrut…itulah mungkin kata yang tepat untuk keluargaku saat itu, karena perekonomian keluarga yang semakin terperosok akhirnya Ayahku memutuskan untuk cari peluang di Negeri Jiran (uh…Ilegal loh..) selama beberapa tahun untuk membiayai anak-anaknya. Tapi malang tak dapat dihalau, dan ternyata memang benar bahwa suatu saat cara yang salah pasti akan mendapatkan akibatnya, saat akan melakukan perjalan pulang ke kampung dengan kapal Tongkang, ternyata polisi laut mengetahui kapal yang illegal itu dan menangkap seluruh awak penumpang itu, dan jadilah beberapa hari harus tidur dalam sel (… kebanyakan cerita yah…).


Kembali ke Rantau, sampai dimana yah jadi lupa…., (oh ya)…menumpang dirumah orang, yach…itulah awal keluarga ku dirantau dengan membawa ketiga anaknya dan ketiga anaknya yang lain termasuk aku di titipkan di kampung. ayahku mencoba mencari peluang untuk yang kesekian kalinya, kali ini tujuannya adalah Pulau Jawa. Dengan modal badan dan pakaian yang melekat pada badannya ayahku mulai mencoba berdagang dengan pinjam modal sana-sini, dagang pete di emperan, dagang es, bahkan hampir semua nya sudah ia jalani. Yang penting Halal. Bayangkan anak yang harus dibiayai enam orang, tetapi penghasilan dirantau pun masih belum tetap dan bahkan super seadanya. Ayahku yang hanya tamat SR (Sekolah Rakyat) begitu juga Ibuku, tak mengenal putus asa, tak merasa rendah diri, dengan gigih mereka berjuang dirantau orang meski menumpang, dan makan seadanya. Semoga Allah memuliakan mereka.

Setelah ayahku dapat penghasilan yang cukup tetap meskipun belum stabil, aku dan kedua kakakku yang di titipkan di kampung dibawa kerantau. Semenjak itulah aku belajar arti hidup, karena ia selalu membawaku yang saat itu masih belum sekolah untuk berdagang di emperan (kaki Lima), yang selalu kuingat ia selalu meletakkan ku diatas ambennya yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Tak lama berselang setelah semua keluarga berkumpul di rantau, kami pun mulai mengontrak rumah walaupun dengan kontrakan yang serba wah ( wah…baunya…., wah…kotornya…wah…kecilnya…,wah…), Ayahku mulai berdagang pakaian anak-anak, dan akulah sebagai maskotnya karena aku selalu di letakkan diatas barang dagangannya….he…he…dengan perawakan kurus dan kecil di tambah dengan kulit yang sawo kematengan (…jadinya item deh..).

Tapi baru sampai disitu adalah proses yang panjang dan tak mudah bagai membalikkan telapak tangan, semua itu butuh pengorbanan yang mungkin setiap orang tak sanggup menghadapinya dan kalah serta mengalah oleh keadaan. Dengan modal nol dan sebuah keberanian dari tuntutan hidup yang membuat Ayah dan Ibuku kuat, mungkin karena kehidupan di kala kecilnya yang membuat mereka seperti itu, ayahku yang hanya sebagai tukang cangkul sawah orang, tukang angkut hasil panen, terkadang di beri upah terkadang tidak, membajak sawah. Sedangkan ibuku hanya pesuruh untuk mengantarkan nasi kesawah-sawah orang. Bagai "DuO sejoli", Terkadang Aku ikut terharu dan sedih di saat mereka menceritakan masa lalunya, dimana binar-binar air mata terlukis dari wajah mereka, dimana sebuah kenyataan yang harus mereka akui dengan melihat orang yang berada saat itu makan makanan yang enak, sedangkan mereka makan dengan serba seadanya. Tapi itulah jua yang mungkin membuat mereka tegar.

Tulisan mereka bukanlah dari sebuah pena, bacaan mereka bukanlah buku, ilmu mereka bukanlah sebuah pendidikan yang jauh bagaikan angan-angan, kesusahan adalah pena mereka, kenyataan hidup adalah ilmu mereka. Walau keadaan mereka susah tapi mereka tak membuat diri mereka bertambah susah.



Labels:

Konsumerisme

1/27/2008 11:46:00 PM / / comments (0)

Beberapa hari ini aku dapat tugas stand by di daerah Surabaya barat. Sebuah Mall megah bernama PTC. Akronim dari Pakuwon Trade Centre. Kulihat hilir mudik pengunjung Mall. Kebanyakan mereka adalah anak-anak muda. Mereka bergerombol beberapa orang. Tapi kebanyakan berpasang-pasangan. Mereka penuh suka cita dan tentunya canda ria.
Ku perhatikan denga seksama. Mulai dari atas sampai bawah. Mulai dari jepit rambut sampai sandal jepit. Hampir semuanya merek-merek terkenal. Dan terlihat keren tentunya. Minimal itu membuat mereka lebih ‘pd’.
Jadi teringat dulu waktu masih di Bandung. Aku begitu merek minded. Kalau tidak bermerek mentereng rasanya malu untuk memakainya. Memang merek mencitrakan kualitas barang. Seringkali aku membeli bukan karena fungsionalitas atau keawetan dan kenyamanan barang tersebut, tapi lebih pada gengsi semu yang ditawarkan merek tersebut. Sebuah kesemuan yang dibuat oleh sang merek untuk membutakan pikiranku. Dan sekarang budaya semu itu terlihat dimana-mana. Dan aku melihat begitu nyata disini. Di Mall ini.
Tapi tak bisa dipungkiri. Televisi begitu kuat memberi pengaruh budaya semu tersebut. Jangankan di Surabaya, di kampungku yang terpencil di lereng Gunung Wilis pun budaya itu mulai tumbuh. Dari mulai baju, sepatu, celana, tetapi yang paling mencolok adalah ‘tunggangan’ dan handphone.
Dulu kami terbiasa jalan kaki atau maksimal naik sepeda untuk jarak tempuh sekitar satu kilometer, dan bahkan lebih. Tetapi sekarang, untuk jarak beberapa ratus meter saja kami enggan naik sepeda, apalagi jalan kaki. Kami gunakan motor. Kami mulai malu kalau naik sepeda atau jalan kaki. Itu akan menurunkan derajat dalam masyarakat. Begitu pikir kami. Dan kami masih bersaing, tentang model, merek serta kebaruannya.
Serupa handphone. Dulu tak ada handphone di kampung kami. Datanglah era telepon nirkabel dengan GSM sebagai ‘babonnya’. Kampung kami tak mengenal AMPS. Awalnya kami membeli handphone sekedar bisa telpon dan sms. Tetapi sekarang, kami begitu membanggakan handphone yang penuh fitur, modern dan baru tentunya. Walaupun kami tak tahu kegunaan fitur-fitur tersebut. Yang penting terlihat canggih dan keren.
Ataupun yang paling kasat mata adalah gaya pacaran. Dulu kami paling pacaran di rumah ataupun kalo keluar paling” ketempat wisata. Sekarang, emms... Mall” yang makin menjamur dengan kafe-kafenya yang nyaman tapi mahal menjadi tujuannya. Dengan semakin menjamurnya ‘gaya hidup modern’ tersebut, makin kuatlah sang konsumerisme menancapkan kuku-kukunya. Menghujamkan pengaruhnya.
Tak bisakah hal tersebut dicegah? Atau dihilangkan sekalian?...Susah dan nyaris mustahil. Mungkin yang bisa kita lakukan adalah mengurangi hal-hal tersebut dari daftar kebiasaan dan keinginan kita. Tak perlu drastis. Cukup mengurangi frekwensinya saja. Dari yang biasa belanja pakaian setiap minggu menjadi setiap bulan, dari ganti handphone setiap bulanya jadi per setengah tahun dan seterusnya.
Saya yakin, kita tak akan jadi orang purba ataupun orang terbelakang jika tidak melakukan hal-hal tersebut. Dan mungkin budget dari hal-hal tersebut bisa kita alihkan untuk yang lain. Membeli buku, berbagi dengan sesama yang lebih membutuhkan, atau yang lain. Saya yakin itu akan lebih menumbuhkan kebahagiaan. Bukan kebahagiaan semu yang menuntut pengakuan orang lain. Bukan kebahagiaan yang timbul karena kita diakui sebagai orang gaul, atau orang modern. Kebahagiaan yang lebih dalam dari sekedar itu. Semoga.

Labels:

Puisi-Puisi Satire

1/27/2008 11:19:00 PM / / comments (0)

Rokok

Pagi hari yang sunyi
Kau temani diriku
Ku hisap kau pelan-pelan
Kau masuki setiap inci paru-paruku

Kurelakan tubuhku kau rasuki
Ku tahu itu
Ku rasakan itu

Kopi cinta sebagai pasanganmu
Menemani hari-hariku
Tak lebih tak kurang
Penghancur pelan
Dengan nikmat sesaat

Makin ku hisap dirimu
Makin tak kuasa ku tolak
Walau ku sadar kau wahai racun jingga
Yang mengotori setiap tetes darahku

Aku harus berhenti menjadikanmu teman
Kau harus kutinggalkan di hari-hariku kini
Walau dalam kesendirianku
Dalam kesunyian dan kesepian
Aku yakin aku bisa
Selamat tinggal racun jingga



Cinta Tuhan

Kurangkaki pagi ini dengan doa
Ku berjalan dengan mantap menuju-Mu
Dengan harap tanpa tepi
Ku yakin Kau ada

Atas nam cinta
Aku terus bekerja
Atas nama cinta
Ku relakan tubuhku berkelana

Ku teriak dalam sunyi
Ku berontak dalam hati
Ku tahu Kau takkan diam
Ku tahu aku milik-Mu

Ku tepekur dalam keramaian dunia
Jiwaku berjalan dalam kematian hati
Sepercik cahaya terlihat dari lorong gelap
Ku hanya ingin kesana
Menuju Mu
Bersama Mu

Labels:

ViRus BOR!Ng.........,

1/26/2008 09:31:00 PM / / comments (5)

Sudah menjadi takdir manusia untuk terpesona dengan sesuatu hal yang BARU.

Bukan, berarti ngelupain yang lama sihhh…, hanya paling tidak untuk beberapa saat, perhatian kita akan tersedot oleh sesuatu yang baru - lebih FRESH atawa lebih BENING ^_^

Seperti halnya; mobil baru, Hp model ter'GRESS', Café tempat HangOUT baru, lagu baru, temen baru, gawean yang baru sampe ke cowo / cewe baru.
Pokoknya segala yang masih baru apalagi menjanjikan akan menarik perhatian kita, walau mungkin hanya sesaat, sekian detik…., menit…., jam…, bahkan mungkin buat selamanya (whuehehehehehe ;D…..)

Gak bisa disalahkan sih….,
coz Manusia diciptakan dengan naluri alamiah 'KEBOSANAN' yang di install diam-diam, tinggal berapa kapasitas memorynya aja ditiap individu.
Persis seperti VIRUS yang menyerang setiap sel manusia – dari ujung kaki sampai ujung rambut.
KeBARUAN lah menjadi Vaksin yang sesaat bisa meREFRESH KEBOSANAN, so lambat laun melumpuhkan kata-kata: "I'M BORED !!!!"

Hanya sesaat…., karena tidak berapa lama lagi KEBOSANAN akan kembali merayap.

Pernah nggak, bertemu anak kecil yang minta merajuk dibacakan cerita dongeng yang sama sebelum tidur setiap malam selama berbulan-bulan ???
Atau pernah gak mengalami ketika kita hanya mau makan dengan satu macam lauk selama beberapa minggu ???

Itu karena VIRUS KEBOSANAN mulai menjangkit, dan mengambil alih dirinya.
Nanti....., semakin bertambah umurnya, VIRUS akan menguasai diri dan dia akan merasakan KEBOSANAN yang terus menerus, tiba-tiba menghinggapi tanpa permisi.

Mungkin karena dorongan VIRUS KEBOSANAN itulah yang membuat aku terus mencari hal-hal baru yang bisa aku lakukan.
Itu juga yang membuatku jatuh cinta pada dunia PuBlic Relations, karena disini aku menemukan persoalan-persoalan yang berbeda setiap harinya.
Tidak ada KEBOSANAN, karena selalu ada yang baru menanti di tikungan sana - selalu berusaha memenuhi kebutuhan mereka hingga nantinya mereka PUAS.

Anehnya, sampai saat ini malah aku yang belum mencapai titik SATISFACTIONS itu.
So….., saat ini aku tengah dijangkiti VIRUS KEBOSANAN.

Bosan ma sesuatu yang sedang aku jalani saat ini…..,
Bosan ma lingkungan kerjaku sekarang yang MONOTON tanpa ada sesuatu yang baru,
Bosan ma Hidup yang gak kaya ROllerCoaster lagi !!!!!!

Yahhhh.....,

Manusia seperti aku ini memang selalu BORING dan gak pernah PUAS ^_^ !!!!!!!!



Labels:

gih sanah...

1/23/2008 10:06:00 PM / / comments (4)

2 org temenku lg berusaha nemuin ak sm seorang wanita
dia bilang si cantik
liat di friendster jg not bad lah...

yg satu ngasih nomor hp dan membuka percakapan menggunakan akoun ym ku
yg satu cerita klo kmrn ketemu dan orangnya emg "high quality"

dan krn ngeliat ak yg males2an berusaha nampaknya mereka gerah
dan berusaha mempertemukan ak dengan dirinya

apakah mereka dan segala provokasinya berhasil ?
mbuhlah...

pas kmrn kbeneran online ada jg temenku di smrg yg nanyain udah dapet pacar di aceh ato belum...
knpa skrg semuanya ttg pacar, nikah, matchmaking dan lsbg ?

malesbangetdotcom
terutama ttg masalah yg satu ini.

kalo kata aryo: tahun ini semua org nikah kecuali kita wan... hehehe...

Labels:

Kematian Paman Gober

1/17/2008 01:03:00 AM / / comments (2)

Oleh: Seno Gumira Ajidarma

Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung
jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, "oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu." Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik
yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta keponakan-keponakannya Kwak, Kwik, dan Kwek, hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama
Penemu, Bisa Ditunggu, pun hamper selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Pman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung
emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Pman Gober menjadi legenda yang disukai. Pman Gober begitu rakus. Pman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang
satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?

"Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.

"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.

"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.

"Belum mati juga!"

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Bnyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-korantelah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, damn membangun museum di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.

"Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?" Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis.
Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.

"Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetannga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

"Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula."

"Apakah saya tidak punya hak bicara?"

"Bisa, tapi janngan asal meleter, nanti kamu aku sembelih."

"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia."

"Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia."

"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?"

"Yang jelas manusia bisa makan manusia."

"Tapi Pman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?"

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa jadinya Kota Bebek?"

Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.

"Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Paman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi."

"Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan."

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.

" Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.

"Apakah itu hakikat hidup bebek?"

"Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari nin Paman Gober sudah mati. Seriap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.

Jakarta, 16 Agustus 1994
mediacare
http://www.mediacare.biz

Labels:

lg males ngapa2in

1/16/2008 10:26:00 PM / / comments (5)

kalo diibaratkan bertujuan pergi ke suatu tempat. ak ni dah punya gambaran "how" to get there. Dan banyak tempat yang ak punya bayangan "how" nya. Tapi sampai saat ini ga ak kerjakan. pikir punya pikir... ternyata yg bikin ak males adalah karena belum ketemu "why" nya.

"Why" disini adalah alasan sebenarnya kenapa ak harus mencapai suatu tujuan. Tujuan yg dari hati dan bukan didapat ikut2an dari tujuan orang lain.

"how" bisa gampang didapat, tp "why" harus melalui refleksi diri ber ulang2. berkomunikasi dengan diri sendiri dan meminta kejernihan pikiran kepada yg diatas.

biar hati ga kemrungsung dan badan ga males2an terus...

oiya, karena blm nemu taichi master disini aku coba cari olahraga lain sambil terus latian form sendiri.

dan kmrn ak kembali maen basket, ternyata stamina dan skill dah beda banget sama yg dulu. tp lumayan jg bisa dapet kringet dan mengingat2 romansa dulu.

weekend ntar maen basket lagi aaah... jadi pengen beli bola sendiri, latian yg bener lg deh kyk dulu ^_^

Labels:

Sang Penabur Mimpi Sukses - Kaya - Baik - Bahagia

1/16/2008 02:10:00 AM / / comments (2)


Tak sebersitpun keraguan bahwa sang penabur benih mimpi adalah orang tua yang melahirkan kita. Saya sangat beruntung memiliki kedua orang tua yang begitu banyak 'dirundung masalah keluarga dan keuangan' namun mampu lolos lubang jarum dan melahirkan enam anak yang sebagian besar diantaranya berani mengejar mimpi-mimpi kecil(baru sekedar berani).

Ayahku hanyalah seorang pedagang kecil-kecilan yang mungkin semua barang dagangan sudah pernah dijual oleh ayah "Kecuali emas" kata ayahku. Semenjak kecil, apapun dagangan ayah, saya dan saudara2 saya yang lain dibiasakan untuk ikut membantu dalam berdagang. saya teringat mulai dari rumah makan, jual&service jam, obral pakaian, toko kaset&vcd, Jilbab, Taperadio, bahkan pernah membuat kerupuk kulit(duh ini kerjaanya capek bgt dan bau lagi..). Semua itu dilakukan ayah hanya untuk menyambung hidup anak2nya, demi menyekolahkan anak-anaknya setinggi yang ia mampu.

Ibuku tidak seperti ibu teman2ku yang lain, yang sebagian besar berprofesi 'ibu rumah tangga'.Tetapi karena tuntutan kehidupan, ibuku ikut berusaha dengan mendirikan jasa pemotongan rambut dengan nama 'Susi Salon'(kalau tidak percaya, anda bisa cek di daerah Kota Rangkasbitung, bisa ditanyakan disana...). Sungguh ibuku adalah wanita yang sudah biasa susah dari kecilnya, kalau mengingat masa2 kecilnya dahulu, kadang tanpa disadari air mata menetes dari mata ibuku. Ibuku dalam hidup benar2 perhitungan sekali, terutama masalah pemasukan dan pengeluaran, kalau istilah kerennya 'cash flow'. Kadang orang bilang 'Pelit' tapi jauh dibalik itu, mungkin kalau tidak karena manajemen keuangan yang dilakukan ibu, aku dan saudaraku yang lain tidak akan mampu sampai 'kuliah'.

Itu baru sedikit paparan akan kekaguman dan rasa salut saya kepada kedua orang tua, mereka memang tidak memberi saya harta berlimpah, tidak memberi kesenangan seperti anak2 muda lainnya. Tetapi yang sangat berharga mereka penuh cinta dan tanggung jawab terhadap anak2nya. mereka berdua dengan pendidikan yang seadaanya(cuma tamat SD) berusaha membuat anak2nya lebih baik dari mereka. Mimpi mereka "Melihat kami besar menjadi orang yang sukses". Saya disini memberanikan diri merajutkan mimpi itu untuk mereka.

SAya bermimpi "saya akan menjadi orang yang sukses, dan saya akan berusaha mencapainya sekuat tenaga, demi membawa diriku dan keluargaku pada tingkat kehidupan yang lebih baik,amien..."

Terima kasih atas tempat sharingnya :)

Salam Senyum :)

Labels:

last nite

1/15/2008 10:18:00 PM / / comments (3)

ak tak bermimpi apa2
tp ak terbangun dengan perasaan aneh
perasaan bahwa kamu ada disekelilingku
perasaan bahwa semua akan baik2 saja
perasaan seolah kita masih bersama

dan ketika menengok ke tumpukan buku di meja
ak melihat buku kecil kuning
dulu km pernah datang kepadaku membawa buku itu,dengan setumpuk empati
melupakan perihmu sendiri...
dan bbrpa hari yg lalu seorang teman mengantarkannya ke tangan ini..
this time i'll gonna read it.
personality plus.

wish u the best of ur life...thx

Labels:

Semua orang bermimpi (Kaya, Populer, Bahagia)

1/14/2008 03:51:00 AM / / comments (2)

Yang saya tahu...jika semua orang saya tanya, 'apakah kamu bermimpi/ingin kaya or sukses??' pasti jawabnya "ya tentu donk".

lalu saya tanya lalu apa yang akan kamu lakukan untuk wujudkan mimpi(cara nya bagaimana?) , hmm ternyata di pertanyaan ini saja sudah banyak yang berguguran, contoh jawabannya 'wah aku bingung', atau 'aku ga ada ide', 'aku ga tahu',

kemudian untuk orang2 yang berhasil tahu apa yang harus mereka lakukan(ini saya sebut baru sekedar pengetahuan), saya ajukan pertanyaan kembali, 'apakah anda bersedia menyusun rencana berdasarkan pengetahuan anda untuk kaya??' ternyata disini kembali banyak yg berguguran dengan dalih 'malas ah, biar ngalir ajah...', 'duh aku rencana hanya di kepala saja, tidak perlu ditulis2 atau dirancang...'.sepertinya mereka lupa atau tdk pernah mendengar nasehat 'Gagal dalam merencanakan berarti merencanakan kegagalan'.

Kemudian dari orang yang telah membuat rencana dengan baik, lagi!! tidak henti2nya saya ajukan pertanyaan, 'apakah anda melakukan apa yang telah anda rencanakan(action)'??, ternyata disini adalah tahap yang banyak pula berguguran dengan alasan 'saya takut gagal', 'saya kurang fasilitas' dan dalih lainnya...ternyata sangat sedikit yang tersisa yang mau melakukan apa yang telah mereka rencanakan.

Dari yang telah berani/memutuskan melaksanakan, ternyata mereka temui dalam perjalanannya tidak selalu mulus dan lancar sesuai rencana, saya tanya kembali, 'apakah anda akan tetap bertahan ketika dalam keadaan buruk, ketika anda terjatuh apakah anda akan segera bangkit kembali'?? ternyata banyak pula yang segera tidak bangun lagi hanya dengan 1 pukulan atau beberapa pukulan, dengan dalih 'saya kapok, gagal ternyata ga enak, mending tidak ikut'. Apakah mereka telah lupa bahwa 'seorang sukses adalah seseorang yang tetap bangkit walau telah jatuh berkali2, ternyata bukan seberapa banyak anda jatuh yg terpenting, tetapi berapa kali anda akan tetap bangkit'.

Dari proses tersebut bisa anda bayangkan kenapa betapa sedikitnya orang yang mencapai puncak....???

dan saya harap itulah kita...hayo kita tetap bangkit dan bangkit lg ketika terjatuh :)


From Dream To Action

Labels:

have fun...

1/10/2008 11:46:00 PM / / comments (1)

moga nda pada kaget, kali ini skin nya agak "mbatik". buat temen2 yg udah pada punya blog sendiri, ak bikin rss feed di left sidebar. biar bisa tetep keep in touch. Emang tujuan tapakkaki ini pada awalnya pengen memperkenalkan blog dan terus mengasah buat nulis. jadi mungkin ada blog personal dan blog tapakkaki ini. nantinya klo udah pada punya blog semua, ak pengennya tapakkaki ini jadi kyk agregator gitu. caranya ak blom ngerti, jd skrg ya gini aja dulu ya.... have fun...

Labels:
1/08/2008 02:48:00 AM / / comments (0)

Pengen Kaya Dengan Mudah??

1/07/2008 08:12:00 PM / / comments (6)

Banyak tipe-tipe janji di dunia-maya yang kubaca isinya mirip2 seperti kata yang kukutip di bawah, baik berasal dari dalam negeri atau dari luar...woow!!! banyak bener....


Ini bener gak ya?? setauku sesuatu yg penuh janji muluk dan gampang biasanya banyak boongnya(Tul ga..), ada yang tahu ga ya? klo ada, kabari aku ya..aku juga pengen klo bener ;)) (lumayan tuh ga cape dapet duit...hmm..enak benerr...)


Rahasia Hebat, bagaimana cara mendapat uang secara online hanya dalam 30 menit

"Saya Akan Membuka Satu Satunya RAHASIA Terhebat Masa Kini Yang Telah Membuat Sedikit Orang Mendadak Jadi Milyuner Hanya Dengan Meng-klik Beberapa Kali Seminggu Saja… Pertama Kali Terbuka Untuk Diketahui Orang Indonesia!"

...Dan Akan Membuat Anda Kaya Melebihi Mimpi Anda!


kalau pengen tau bisa cek link ini(aku sempet daftar juga sih he..he.)

Labels:

Negeri Pasta Gigi

1/07/2008 08:00:00 PM / / comments (3)

Ada sesuatu yang menarik yang pernah aku amati.. Sering kali dalam kesulitan muncul para pemenang” hebat. Begitu yang kurasakan. Dalam suasana terjepit sering kali justru bisa melakukan sesuatu yang ‘hebat’.
Sebuah contoh kecil waktu kecilku. Ketika teman” main dengan layang” dan benang gelasan yang di beli dari toko, dengan penuh keterbatasan aku mampu membuat benang gelasan produk sendiri, kaca yang ditumbuk halus, dicampur getah pohon mangga dan juga putih telur. Layang” pun serupa. Dari kertas bekas, bambu yang diambil dari belakang rumah dan juga lem dari tepung kanji yang digodog. Hasilnya pun sangat memuaskan. Layang” dan benang ‘made in’ ku beberapa kali menang. Dan sangat tahan lama.
Begitupun ketika SMP. Ketika teman-temanku menggunakan motor dan kadang diantar orang tuanya pergi sekolah. Sedang aku harus mengayuh sepeda, itupun berbocengan dengan teman sekampung. Panas dan tentunya peluh membasah. Tapi prestasiku di sekolah cukup ‘lumayan’.
Serupa rakyat negeri ini. Ketika krisis ataupun dalam keterbatasan justru keluar para pemenang” yang mengagumkan. Siapa yang tak kenal Edam Burger. Dengan I Made Bagiana sebagai motornya. Hebatnya justru Edam Burger mengalami peningkatan omset yang luar biasa setelah negara mengalami krisis moneter. Edam mengakomodir keinginan orang makan burger tetapi dengan harga yang terjangkau. Sebelum krisis siapa yang kenal dengan dia.
Atau Tung Desem Waringin. Ditengah bangsa yang krisis, baik ekonomi, moral ataupun mental, dia keluar sebagai motivator nomor wahid. Ketika rakyat Indonesia semakin depresi, semakin stres semakin dibutuhkan orang seperti dia. Dia berubah dari seorang karyawan BCA menjadi seorang motivator ulung justru karena dia dihadapkan dengan kenyataan, ketika gajinya yang ‘lumayan’ tak mampu membayar barang sehari perawatan ayahnya di sebuah rumah sakit Singapura.
Sering kali para pemenang lahir justru ketika dia mengalami peristiwa yang sangat berat. Seringkali karena keterbatasan, lahirlah manusia” ‘super’ yang bisa kita jadikan inspirasi. Dan hal itu jamak terjadi di sini. Di negeri ini. Layaknya Pasta Gigi, kalo nggak di pencet nggak akan keluar.

* Tulisan ini sebenarnya untuk memotivasi aku, karena sekarang begitulah keadaanku. Semoga aku juga bisa menjadi pemenang bagi hidupku.

Labels:

Takuruang nak di lua, taimpik na diate

1/07/2008 12:40:00 AM / / comments (5)

teman...maaf sebelum tulisan terserak disini, tak ada niat dari awak(saya) ini untuk membangga2kan kesukuan, apalagi memecah kesatuan(ngeri bo nasionalis :p), atau yang lebih parah merendahkan suku lain. No!..No!

saya sangat menghargai setiap suku di Indonesia, saya memang dilahirkan 1/4 abad yang lalu atas Kehendak-Nya berdarah 'Minang', ayah dan ibu orang minang sejati bo...Namun karena hidup yang tidak selalu berjalan mulus, sesuai bana dengan pepatah minang "Nasib ba cando roda padati, kadang diate kadang dibawah" yg kalau diterjemahkan dalam bahasa indonesia "nasib seperti roda pedati, kadang diatas, kadang dibawah", karena ada masalah yang besar saat itu membuatku terpaksa merantau pula ke negeri jao(jawa), saya dibesarkan oleh 2 orang tua yg minang asli(didiknya car minag lg..) dan dengan lingkungan teman2 dari semenjak 2 SD(ini awal kami sekeluarga merantau) sampai akhir SMA yang notabene orang Sunda, dan ditambah saat kuliah yg lumayan lama banyak berteman dangan orang2 jawa(6 1/2 tahun bo he..he.. lama bgt..). Membentuklah karakter yang saya rasa terjadi percampuran disana-sini. ibarat masakan sudahlah jadi gado2 yang diri sendiri ajah ga tau rasanya, tapi yakin sih.. namanya gado2 biasanya uenak tuenane....

Karena saya tidak dibesarkan di negeri 'Minang', setelah 'guede' kayak gini(walau susah gede2-nya, padahal dah makan buanyak), menimbulkan rasa kangen juga tuk tahu sedikit demi sedikit tentang orang 'minang', saya liat secar umum dan mungkin orang menilai, bisa dikatakan salah-satu kriteria [kehebatan] seorang minang adalah : kemampuannya dalam “ma ota lamak“, atau ngobrol dengan orang lain dengan “nikmat“. Dari tradisi memang seorang minang secara sengaja atau tidak, telah diajarkan untuk mampu bercerita atau bertutur yg dapat membuat lawan bicara bisa betah (tertarik) mendengarnya. Bahkan kemampuan ngomong sedemikian (seperti dari ber-pepatah pepitih) telah mempengaruhi sistem nilai di ranah minang dalam mengukur kualitas seseorang. Tentu ini juga yang membuat [kbanyakan] orang minang tampak cakap saat berperan sebagai diplomat, negosiator, dan [termasuk] juga saat manggaleh (jualan) :)

Dalam sehari2 kadang dalam percakapan ringan, saya sedikit diajari/dicekoki oleh bapak pepatah minang, yang dalam sejarahnya telah membentuk dasar perilaku dan budaya di minang(klo salah, ah itu mah biasa, namanya juga belajar :P)

seperti :
Takuruang nak di lua
Tahimpik nak di ateh
versi indonesia :
terkurung nak diluar
terhimpit nak diatas

Kalau ditelusur secara gamblang, blak2an, arti jelas, sepertinya orang padang nih licik bgt ya???masa terkurung maunya diluar, terhimpit mau-nya diatas???. Namun kalau ditelusur lebih mendalam, ternyata ada nasehat didalamnya : Urang Tuo kito memberi isyarat bahwa dituntut untuk adanya niat/upaya/usaha untuk bisa keluar dari suatu permasalahan, kesulitan, dan rintangan. Jadi jgn diam sajo, ojo cicing wae!!! , berubahlah...ato 'use U'r Mind' kata bapak2ku yg diluar negeri.

Jadi teman untuk hari ini, jika ada dari teman2ku dari suku manapun dari rimbawan manapun dalam kesulitan/kesusahan, ayo bergerak ini bukan saatnya untuk mengeluh dan diam. Malah inilah saat yang paling tepat untuk menerjang dan menghantam ;))(sok hebat bgt ya ardi nih..sorry2...)

Salam Senyum...:)

Labels:

Nikmatnya Nasi Merah

1/06/2008 09:23:00 PM / / comments (0)

Alhamdulilah dah 2 hari ini aku bisa menikmati lagi nasi merah yang terakhir kali aku makan ketika masih SD dulu waktu di ajak ke daerah MOGA.
Sabtu kemarin makan nasi merah di tengah belantara hutan Louser bersama teman PA dari Pemda,
Hari minggunya makan nasi merah di rumah penjaga kebun Teman. Sambil mancing ikan Mas yang ada di kolam dia....lumayan tuk di bawa pulang.
So rencananya hari ini baru dimasak oleh Ibu kost ku hehehehe....

Labels:

RESOLUSI..........,

12/31/2007 02:03:00 AM / / comments (1)

"H@PPy NeW Ye@R 2008 "
Api


Kalo nyangkut soal Resolusi....,
Yahh.., sudah tentu kita ingin hidup kita lebih baik dari sebelumnya (Bener gak???)

Buktinya aja, gw pengin taun 2008 ini.....
bisa lebih FUN & Fearless di tahun skrg
coz yang ada taun 2007 ini, bener-bener STUCK !!!!

Sumpah BOring abizzzzzzz......,
(Mungkin buat Mr SunGlasses dah sering gw curhatin)
Nyebelinnya gw dibilang maruk ma masalah, gak coba satu-satu diseleseiin ;p

Gw pengin bisa lebih "Geeks" ma masalah yang bakalan gw hadapin di taun depan ini
Coz gw gak mo terkesan "Fragile" bahkan "SPOILED"
Cuma gara - gara urusan cemen kaya LoVE !!!!
Yg bikin bulu gw begidik sekarang...,YAKs*

I think....,

Im SCH!ZoPhReN!@ NOw ^_^

Yahhhhhh.....,

Mungkin, Betapa Hidup ini jauh lebih berarti
Jika gw bisa trus + Thinking
NO GRUMBLE again(mungkin dah bawaan lair kali ;>)
Mencoba melihat masalah lebih jernih lagi
karena saat ini semua yg ada disekeliling gw jadi samar alias Abu-abu
Jelasnya, gak ada batasan yang JELAS

Jauh lebih baik...,
Jika mo dengerin suara hati kita, dengan kontemplasi terus menerus
daripada dengerin ocehan yg gak jelas di sekeliling kita
Inget, kadang mereka cuma bisa ngeJudge kita
bahkan memprovokator dibanding memberi Reinessance akan jalan yang kita hadapi ntarnya

I am ThankFULL !!!
YES..., SURE The FUTURE is NOT for US to SEE

Coba bayangkan....,
Jika kita bikin MAKE OVER luar dalam ketika bikin RESOLUSI 2008 ini
Gak mesti yg muluk2 namun berarti bagi sekeliling kita
Tentu bakalan ada reaksi POSITIF
yg akan mengelilingi kehidupan kita di taun 2008 ini

Well..., at least....,
WE TRY OUR BEST
and
THE RESULT will Follow........

Labels:

NAD Minus 3 Daerah

12/30/2007 06:55:00 PM / / comments (0)

Alhamdulilah....akhirnya sekarang aku hampir menjelajahi semua Kabupaten/Kota di Prov NAD ini. Hanya Kab Simelue,Singil dan Subusalam aja yang belum aku kunjungi dari 22 Kab/Kota yang ada.
Kemungkinan nya emang gak bisa lagi,karena tadi pagi dah dapat SK bulan Maret pindah ke Deli Serdang-SUMUT.
jadi sekarang penjelajahan pindah ke Prov SU,minimal sering jalan ke Medan dan Toba nanti lah.. hehehehe...

Labels:

Penggabungan yang tak kusangka

12/25/2007 09:47:00 PM / / comments (5)

Liburan Idul Adha kemarin,membawa kesenangan sendiri dalam hidup ini
Hari minggu kemarin,diajak jalan2 ma teman tuk silahturahmi ke tempat teman2 nya yang lain.
Ada 3 teman yang di kunjungi,tapi yang terakhir itulah agak berkesan.
Setelah main di rumahnya,aku ajakin dia ke MATAIE pke Motor dia karena teman2 lain naik mobil kantor.
Di MATAIE barulah aku ngobrol,dan tahu klo dia adalah PENGGABUNGAN dari orang2 yang kusayang dulu.
Nama=Mantan di Pemalang
Suku=Mantan di Aceh
Profesi=Mantan di Gayo
Hobi=Mantan di Jakarta
Tak kusangka itu jadi perpaduan yang unik dan menyenangkan....
Semoga keinginanku tuk jadikan dia pelabuhan terakhirku terkabulkan. Amien.......

Labels:

Perubahan Mindset

12/19/2007 10:25:00 PM / / comments (5)

Dulu aku selalu berfikir hidupku bagai bola salju yang meluncur dari atas bukit. Pertama dia adalah sesuatu yang kecil. Setelah sekian lama menggelinding, dia akan membesar. Dan terus membesar. Dia akan menerjang segala rintangan yang ada. Dan akan berhenti di laut dengan ukuran yang besar.
Serupa dengan itu. Aku harus menerjang rintangan yang berat. Dengan keringat dan seringkali darah. Ketika aku harus berhadapan dengan tembok tebal, aku masih menghatamkan ‘diriku’ kepadanya. Sampai aku hancur berkeping-keping. Sampai aku tak kuasa menahannya. Tapi aku terus berusaha menghantamnya. Serupa ketika aku sampai dilembahan. Ketika momentumku habis, aku terus berusaha untuk naik menuju punggung bukit. Tapi aku tak bisa menggapainya. Aku tak kuasa. Adakah yang salah dari cara pandang itu?
Aku terus berfikir. Aku terus merenung. Memang apa yang salah dari cara pandang tersebut? Karena terbebani dengan keharusan untuk menuju laut secepatnya aku terus menghatam. Dan seringkali dengan menbabi buta. Itu berimplikasi langsung pada hidupku. ‘Aku’ sering terbebani oleh banyak hal. Impian-impian yang harus aku raih. Jalan yang sudah aku ‘buat’ yang harus kutempuh. Terjangan yang harus aku lakukan, tanpa melihat seberapa kekuatanku. Aku sering menipu diriku dengan mengatakan aku mampu. Meskipun itu membutuhkan waktu, tapi aku terus menerjang.
Seringkali, yang terpenting rintangan itu hancur. Meskipun kehancuranya akan berimbas kepada kehidupan orang lain. Sering kali aku terlalu ngoyo hingga kehabisan tenaga ditengah jalan. Sering kali aku menyalahkan keadaan, tanpa melihat diriku terlebih dahulu. Dan semua bermula dari ‘aku’ tersebut.
Disuatu titik aku menemukan sesuatu yang lain disana. Dari atas bukit aku lihat aliran sungai mengalir dengan derasnya menuju lautan. Bukankah asal dan tujuannya sama. Air disungai berasal dari gunung dan tujuanya adalah laut. Serupa ‘bola salju’. Berasal dari bukit dan menuju laut. Tapi kenapa ‘air’ seperti tanpa rintangan mengalir dengan derasnya. Setelah aku perhatikan dengan seksama, air bukanya tanpa rintangan. Ada banyak rintangan bahkan. Tapi mereka berkelok dengan anggun ketika menghadapi rintangan yang tak mungkin diterjang. Ketika mereka menghadapi batu yang kecil, mereka akan menggerusnya, sampai hilang. Disepanjang alirannya tumbuh subur semua tanaman. Bahkan hewan-hewan pun menggunakanya sebagai sumber kehidupan. Sesuatu yang indah. Dari yang mata air yang kecil. Menajadi muara yang besar. dengan menghadirkan kehidupan bagi yang dilewati.
Dan begitupun seharusnya ‘aku’. Ketika menghadapi rintangan yang luarbiasa, aku harus mencari celah. Celah yang memungkinkan aku melewati tintangan itu. Tanpa perlu bersusah payah menghancurkanya. Tanpa harus merusak yang lain. Tanpa harus menyalahkan yang lain.
Menjadi manusia yang fleksibel. Itulah ‘aku’ yang aku harapkan sekarang. Bukan orang yang kuat, tapi orang yang selalu tanggap dan mudah menghadapi perubahan. Orang yang terus menggeliat mengikuti roda kehidupan. Minimal tidak terdindas olehnya. Tidak terbebani jika sesuatu yang kita targetkan tak tercapai. Mungkin harus dengan jalan lain, dengan mencoba kembali, atau mencoba dengan cara lain. Ataupun ketika ada ‘sesuatu’ yang hilang atau ‘diambil’ oleh Nya. Akupun tak akan stress berkelanjutan. Bahkan mungkin bisa lebih bahagia, karena tanggungan itu akan mengurangi beban pikiranku.
Ketika menuju kesana pun aku harus bermanfaat bagi orang lain. Seringkali aku hanya memikirkan kepentinganku. Meskipun itu ‘merusak’ untuk orang lain. Dan itu terus berulang. Maafkan jika mungkin aku pernah ‘merusak’ kalian.
Sekarang aku mulai menuju kesana. Dengan begitu ‘aku’ lebih besyukur dengan apa yang ku peroleh. Tak ngoyo tetapi selalu berupaya.
Serupa dengan setengah gelas air. Sekarang aku melihatnya sebagai gelas setengah isi. Bukan gelas yang setengah kosong. Aku nikmati air yang setengah itu dengan nikmat. Senikmat-nikmatnya.
Aku harap itu terus terjadi. Ketika apapun ‘datang’ dan ‘pergi’ aku tetap merasa kenikmatan. Tanpa ‘nikmat’ dan ‘sakit’ yang berlebih. Semoga.

Labels:

Jeda dan Waktu.

12/19/2007 10:22:00 PM / / comments (4)

Seperempat abad sudah kulewati hidup. Ada senang, sedih, sakit, sehat, nikmat, sengsara, tangis dan sering kali tawa. Aku tahu berat memang tantangan kedepan. Aku tahu aku hanya salah satu pejalan hidup yang tak berarti apa”. Atau dalam bahasaku, From Nothing To Nowhere.
Aku rasai hidupku seperti mendaki pegunungan. Ada kala harus mendaki. Terjal dan berkeringat. Seringkali aku kepayahan dan harus sejenak berhenti. Ada naik, ada turun dan kadang mendatar. Aku nikmati semua itu senikmat-nikmatnya. Memang, kadang aku tak kuasa menahan berat beban di pundak. Jeda. Itu kata yang cukup mewakili. Dalam pendakian, sering aku harus berhenti. Sekedar untuk minum, melemaskan kaki dan melihat alam sekitar. Puncak gunung memang penting, tapi perjalanan yang mengasikkan seringkali lebih penting.
Serupa dengan itu. Hidup tak melulu tujuan, target ataupun cita-cita. Sering kali proses kesana begitu nikmat untuk dirasakan. Bahkan mungkin itu yang terpenting. Seringkali kita mendapat pelajaran didalamnya. Dan dalam proses itu aku sering kali kepayahan. Ketika itu jeda sering kali dibutuhkan. Untuk ‘men-charge’ semangat yang mulai memudar.
Aku tak muda lagi. Angka dua puluh lima adalah angka penting. Seringkali ulang tahun ke dua puluh lima dirayakan dengan pesta. Apakah itu umur seseorang, ataupun sebuah mahligai perkawinan. Duapuluh lima adalah milestone menuju pendewasaan. Karenanya tak seharusnya aku terus bersikap kekanak-kanakan. Meski terkadang itu perlu. Sekedar untuk istirahat sejenak dari proses pendewasaan yang menguras tenaga. Sekedar jeda sesaat.
Aku bersyukur kepada Tuhan. Dia masih mau memberi pada hampanya yang papa ini. Terlalu banyak nikmat yang Dia beri. Dan seringkali aku tak bersukur karenanya. Maafkan aku Tuhan. Maafkan aku yang selama ini menyianyiakan begitu banyak nikmatmu. Terutama waktu.
Waktu. Dimensi yang melengkapi dimensi ruang. Besaran yang ternyata sangat relatif. Seringkali aku merasa waktu itu pendek ketika membaca sebuah buku. Atau main game jaringan dengan teman-teman. Seringkali waktu itu terasa begitu panjang. Ketika harus berhenti dilampu merah ditengah hujan dan macet yang sangat. Atau menunggu seseorang yang telah lama dinanti.
Waktu, kata-kata pendek dengan berbagai makna. Dan Tuhan menganugrahkan kepadaku tanpa imbalan. Dia hanya minta pertanggungan jawab. Mulai sekarang, akan ku intensifkan penggunaanya. Itu mungkin wujud rasa syukur tertinggi yang bisa aku lakukan. Mengisinya dengan kegiatan positif dan membangun. Semoga.
Terima kasih Tuhan.

Labels:

Tempat Baru

12/19/2007 10:16:00 PM / / comments (4)

Remang temaram malam sering kali mengalirkan rasa sunyi. Rasa sunyi yang membuat kesepian. Diperantauan ku yang kedua setelah Bandung, sering kali aku dihinggapi rasa sedih. Sedih kehilangan kegiatan rutin yang aku lakukan dirumah. Masak di dapur dengan ibu tercinta di pagi hari, ngopi di warung deket lapangan sama teman”, nongkrong dipinggir jalan dan bercanda bareng teman sekampung, bercengkrama dan diskusi bersama keluarga di ruang tengah, makan pagi masakan ibu yang lueezaat dan masih banyak lagi yang lain. Seringkali keinginan untuk merasakannya hadir dengan kuat. Entah kenapa.
Ada yang pergi ada pula yang datang. Ketika semua hal tadi melenyap, timbul hal” baru yang datang tanpa diundang. Candaan Rizki dan Anang “Pak Mori”Banyuwangi yang seringkali mengundang tawa. Anang Madura yang seringkali menghadirkan senyum dengan bahasa jawa logat madura yang kental. Mbak Yani dengan beberapa petuah bijaknya. Malik yang sunda(hore, ayeuna urang diajar basa sunda deui) yang harus banting tulang untuk membiayai kuliahnya sambil siangnya berkerja. Dia orang Tasik asli. Lulusan SMA 1 Indihiang, katanya dia adik kelas Indra L Bruggman. Irman dengan senyumannya yang khas. Riang yang seorang jebolan STM tapi jago banget utak-atik motherboard. Dan masih banyak yang lain.
Dalam kehidupan ada yang datang dan ada yang pergi. Silih berganti. Proses alamiah yang seringkali membuatku rasai sakit, nikmat, menderita ataupun bahagia. Aku tak tahu. Mungkin inilah proses pendewasaan yang harus dijalani. Adaptasi dengan tempat baru selalu menuntut kedewasaan. Dimanapun dan kapanpun. Banyak sekali hal baru yang seringkali tidak sesuai dengan keinginan. Tapi itulah hidup didunia. Seringkali tak sesuai dengan ekspektasi.
Hidup harus terus berjalan. Sesuai atapun tak sesuai. Aku hanya harus menjalaninya sebaik-baiknya, senikmat-nikmatnya. Tak perlu berharap telalu banyak. Tak perlu rasa cemas yang berlebih. Seperti kata sebuah iklan, Enjoy Aja!

Labels:

Segarnya Udara Lereng Welirang (2)

12/19/2007 10:11:00 PM / / comments (0)

Malam Hangat di Perkemahan yang Dingin

Akhirnya kami(aku dan temenku Nur Cahyo, selanjutnya aku panggil Cahyo) sampai juga di perkemahan temen-temennya. Mereka adalah staf pengajar dan siswa dari lembaga bimbingan belajar InLAC. LBB ini baru ada sekitar tahun 2005. Cahyo adalah salah satu staf pengajar pertama di LBB. Mereka sering ngadain acara seperti ini. Untuk refresing dan juga pengakraban. Kebanyakan staf pengajarnya lulusan jurusan Psikologi Untag Surabaya, termasuk Cahyo tentunya.
Sampai disana aku berkenalan dengan beberapa orang. Ada Brantas(kayak nama sungai aja, atau jangan-jangan lahir di tepi sungai), Alfin, Mahar, Yunita dan masih banyak lagi. Maap aku lupa oey. Mereka ini para staf pengajarnya. Mereka menyebut InLACru. Sedang yang junior antara lain Putri, Hany, Era, Imei dsb. Mereka disebut InLACers. Mereka kebanyakan datang dengan pasangan masing-masing. Memang tempatnya asyik banget buat pacaran. Cahyo yang sebenarnya juga pengen ngajak pacarnya gitu. Berhubung pasangannya nggak bisa, akulah yang ketiban sampur. Jadilah kamilah pasangan homo satu-satunya di situ. Hehehehe…
Berhubung dilereng gunung, udaranya dingin banget. Tapi asyik. Sudah lama aku tak merasakan dinginya udara pegunungan. Sejak dari Malang sekitar sebulan yang lalu lah.
Balik lagi ke anak InLAC. Mereka rata-rata ramah lho. Kami sempat ngobrol ngalor-ngidul. Ditemani kopi, teh hangat dan bebera bungkus makana ringan, obrolan jadi tambah asik. Tentang sejarah InLAC, ternyata yang punya adalah senior dari Bob Foster Nainggolannya GO. Tentang perjalan tadi siang yang mereka tempuh, tentang perjalanku yang sempat kehujanan dan masih banyak lagi.
Setelah ngobrol beberapa lama, Brantas dan Alfin ngusulin gimana kalo main game aja. Gamenya tentang penjahat dan polisi. Ada penjahat, ada dokter, ada polisi dan tentunya juga rakyat biasa. Dibantu dengan satu set kartu untuk memudahkan memainkannya. Gamenya adalah tebak-tebak untuk ‘membunuh’ penjahat. Jadi dipilih satu penjahat, dua dokter dan dua polisi. Tugas penjahat adalah memilih seseorang untuk ‘dibunuh’. Tugas dokter adalah ‘menolong’ orang yang dipilih oleh sang penjahat agar tidak terbunuh. Polisi ditugaskan untuk ‘mencari’ penjahatnya. Permainan selesai jika sang penjahat ‘tertangkap’ oleh polisi. Ketika kita menuduh seseorang, haruslah didasari sebab yang harus di argumentasikan. Itu melatih anak-anak biar berani mengeluarkan pendapat. Dan yang dituduhpun harus bisa membela diri tentunya. Game yang menghibur sekaligus edukatif.
Hampir tiga jam kami memaikan game itu. Tak terasa sudah ‘lewat tengah malam’. InLACer dan InLACru sudah banyak yang ngantuk. Akhirnya game kami sudahi. Tinggal aku dan beberapa anak saja yang masih ‘idup’. Ditemani kopi dan rokok kami terus ‘mengidupkan’ suasana.. Sembari jaga” tentunya. Karena banyak sekali anak yang camping disini. Dan di bawah tempat kami ada beberapa anak yang minum” gitu.
Dingin makin terasa di kulit. Dan bodohnya aku, jaket satu-satunya yang aku bawa, aku pinjemin(maap, emang aku bego dari orok!). Dan tas yang didalamnya ada sarung yang aku bawa terselip di tenda entah yang mana(kebegoan kedua). Mana nggak bisa lihat” tenda. Udah pada tidur semua. Terpaksa aku cuma pake celana dan kaos lengan pendek doang.
Sekitar jam dua, ada seorang anak yang sakit. Shinta namanya. Kelihatanya dia kena hypothermia. Banyak yang panik gitu melihat keadaan Shinta. Sebenarnya aku nggak enak bantuin. Takut nyampurin urusan internal mereka. Tapi berhubung yang lain pada panik, terpaksa aku bantuin. Setelah beberapa saat kemudian kesadaranya mulai pulih. Hampir setengah jam kami ‘merawat’ Shinta. Dengan peralatan seadanya tentunya. Setelah agak mendingan, dia dirawat ma cewek” di tenda.
Sekitar pukul 3.30 rasa kantuk menyapaku. Aku pejamkan mata diatas jas hujan yang aku pinjam dari mereka(aku datang tanpa persiapan. Cuma bawa sarung, eh terselip. Bawa jaket malah dipinjemin! Bego!!). Segera aku ‘berlayar’ dengan ‘peralatan’ seadanya. Tak terasa aku bangun kembali. Kebelet kencing penyebabnya. Jam di hapeku menunjukkan 05.05. Aku segera beranjak ke kamar mandi.
Anak-anak yang lain masih banyak yang terlelap. Dinginnya minta ampun, jadinya enak buat tidur pake selimut didalem tenda. Sedang Cahyo masih saja terlelap sedari selesai game polisi-polisian semalem.
Matari mulai menyeruak dibalik gunung. Pertanda pagi mulai menjelang. Meskipun musim penghujan, tapi hujan tidak turun tadi malem. Semua acara kami semalam berjalan lancar. Thanks God!

Labels:

Segarnya Udara Lereng Welirang (3)

12/19/2007 09:55:00 PM / / comments (0)

Air Terjun Dlundung dan Penatnya Kehidupan.

Anak-anak InLAC mulai keluar dari tendanya masing-masing. Jam di hapeku nunjukin 06.08. Cahyopun baru keluar dari tenda yang dia tumpangi. Sambil meminum kopi aku nikmati udara pagi yang segar ini. Polusi dan panas udara Surabaya telah membuatku merindukan hal ini dengan sangat. Seringkali karena tuntutan hidup kita akan berkorban dan mengorbankan apapun.
Kadang akui piker kenapa kita tebangi hutan yang sangat berguna buat kita. Tuntutan kebutuhan ekonomi selalu jadi alasan. Meski menurutku itu sebuah keserakahan bukan kebutuhan. Seharusnya kita bisa menghadirkan udara segar seperti ini di kota. Jika kita lebih bijak terhadap alam tentunya.
Pagi ini akan diadakan outbond mengelilingi daerah sekitar air terjun. Akupun didapuk sebagai volunteer bersama beberap InLACru. Ada tiga pos yang harus dilewati peserta. Aku mendapat tugas jaga dipos satu.
Para InLACer dibagi menjadi dua kelompok. Untuk memudahkan pengawasan tentunya. Peserta diminta meleweti semua pos yang ada. Dan disetiap pos, setiap regu akan diminta untuk menjawab pertanyaan. Ketepatan jawaban, ketepatan waktu dan kekompakan tim yang akan dinilai.
Gerimis mendatangi lereng Welirang. Hal itu tak menyurutkan semangat InLACru dan InLACres. Acara yang dimulai jam 7.30 selesai jam 9.30.
Setelah semua selesai, kami segera berkumpul kembali di camp. Setelah musyarawarah untuk menentukan jam pulang kami segera berangkat ke air terjun Dlundung. Tidak terlalu istimewa. Tapi lebih dari cukup untuk mengurangi penat pikiran. Beberapa InLACer mandi dan berfoto di air terjun. Aku hanya melihat dari pinggir. Sembari melihat orang yang terus berdatangan. Hampir semuanya berpasangan. Jadi iri oey. Tapi tak mengapa, kan udah biasa ngejomblo. Hehehehe…
Setelah puas memandangi air terjun yang tak berubah-ubah(emang mau berubah gimana lagi) aku segara beranjak menuju camp. Jarak antar camp dan air terjun sekitar lima ratus meter. Selepas tangga aku dan Cahyo sempat mampir di warung bakso. Sekedar untuk mengisi perut yang sedari tadi cuma terisi kopi dan roti.
Selesai makan aku segera beranjak ke camp. Rombongan akan balik jam setengah dua. Karena kami pengen balik sekitar jam dua belasan, terpaksa kami nggak bisa pulang bareng. Kami segera pamit dan beranjak pulang. Segera kupacu motor menelan aspal-aspal lereng Welirang.
Di kanan-kiri aku lihat banyak sekali anak-anak manusia sedang asyik memadu asmara. Memori itu mengingatkanku pada masa-masa SMA. Masa hidup yang paling indah. Hampir tanpa beban hidup. Yang melingkupi hanya kesenangan yang bersambung tiada habis. Sesampai di jembatan kali Porong daerah Mojosari aku berhenti sejenak. Jembatan itu sedang dibangun. Ditambah satu lagi. Sebagai jalan alternatif dari arah timur Jawa ke arah barat tanpa melewati Lumpur Panas Lapindo. Selain memberi efek negatif, ternyata Lumpur juga memberi efek positif, walau hanya sebagian. Mojosari salah satunya.
Selepas Pabrik Tebu Tulangan kami berbelok mengikuti alur sungai sudetan Kali Porong. Air mengalir dengan jernih. Tembok” tebal yang menyikupi sungai berdiri kokoh tanpa retak. Untuk masalah pengairan Bangsa Belanda Memang luar biasa. Salut.
Jalannya sempit dan banyak sekali polisi tidur. Tapi lumayan sepi. Eh keluar-keluar udah deket pasar Larangan Sidoarjo. Lumayan menghibur ditengah badan yang mulai memenat.
Aku segera memacu motor di atas jalan aspal Sidoarjo-Surabaya. Siang itu terasa begitu terik. Badanku masih adaptasi. Dari tempat dingin ke tempat panas. Sesuatu yang menyiksa tentunya. Badanku yang mulai didera kantuk dan lelah mulai sulit diajak kompromi. Cahyo yang aku bonceng, berkali-kali tidur. Hal itu seringkali membuyarkan konsentrasiku terhadap jalan. Terpaksa aku jalan lebih pelan. Jam satu lima belas akhirnya sampai juga aku dirumah Cahyo. Dia langsung tertidur begitu sampai dirumah. Sedang aku yang minta diantakanya ke kosan terpaksa menunggu dia bangun. Sembari menunggu aku minta ijin untuk mandi. Badaku yang sedari kemarin tak tersentuh sabun minta untuk diperhatikan. Selesai mandi akupun menyusul Cahyo tidur. Badanku tak bisa dibohongi. Jam setengah lima aku bangun. Karena Cahyo sibuk dengan pacarnya, terpaksa aku diantakan adiknya menuju kosan. Tak terasa badanku masih ingin tidur kembali. Kurebahkan sejenak di kasur butut kamarku.
Aku bermimpi alangkah indahnya jika kita bisa menghadikan kesejukan itu di kota ini. Mall-mall yang terus bertebaran tanpa menyisakan ruang terbuka publik, seakan menyesakkan jiwa. Seringkali kita harus berjuang jauh untuk mendapatkan sesuatu bernama udara segar. Sesuatu yang terasa mewah bagi kita tapi tidak untuk mereka penghuni lereng Welirang. Terima kasih Welirang, suatu saat aku akan kembali. Dengan ijin Tuhan tentunya. Entah kapan!

Labels:

Takengon The Highland of Aceh (2)

12/17/2007 03:20:00 AM / / comments (2)

Sore itu kami mandi dengan air sedingin es, lalu pergi makan malam. Habis makan kami puter2 kota takengon buat cari tomat krn ada yg pengen masak mie malem nanti. Setelah cari makan dan sisa capek perjalanan belom ilang, kami berkumpul di ruang tamu rumah itu. Rumah yang hangat karena bagian dalamnya dilapisi dengan kayu, baru tahu ak ternyata kayu2 itu juga berfungsi buat menahan panas.

Di ruang tamu itu kami ngelungker-lungker senyaman mungkin disofa dengan dikerubuti selimut. Entah siapa yang mulai tiba2 muncul cerita2 seram. Malam itu bulan purnama, dingin dan di rumah yang asing. Tiba2 kami merasa ga berani tidur terpisah di kamar yg tersedia(ada 3 kamar). Maka kami memutuskan untuk tidur bersama seperti ikan pindang yang dijejer2 di dipan kayu. Perkumpulan di ruang tamu itu juga dimeriahkan oleh seorang penyanyi yang suaranya sangat mirip dengan tompi dan ari lasso. Cukup menghidupkan suasana.

Esoknya…menjemput hari bangun pagi2… usai sholat shubuh langsung pergi ke belakang rumah. Areal persawahan yang punya background perbukitan takengon yang masih sedikit diselimuti kabut.

Dua dara dan satu fotografer kawakan menjemput fajar, menghasilkan karya disaat the driver sedang menunggui co-pilot yg masih terlelap…lalu terciptalah...

the masterpiece: menyongsong pagi

Tia yg pertama melihat pantulan danau lut tawar. Dan berkat ajakan dia kamipun mencari jalan menuju danau tersebut. Beberapa objek menarik dari perjalanan kami pagi itu dikumpulkan disini:

Ada becak unik yg ditempeli stiker fear factor, kali aja ada yg naik becak itu bisa diuji nyalinya. Rumah adat yg aceh banget, masjid tua dengan background bukit berkabut, juga spot yg penuh bunga2 kayak dimanaaaa gitu… tujuan dari perjalanan itu cuman pengen liat danau yg menurut bayangan kita deket, ternyata pas nanya orang kok malah kyk menjauh gitu. Setiap nanya pasti jawabannya jauh ke kiri padahal menurut logika kita (yg sok tau) tinggal belok kanan pasti nyampe. Mungkin ini yg disebut ga nyambung antara pertanyaan dan jawaban. Ga tau juga sih, tapi waktu itu agak jauh juga kita bisa nemu danau itu…dan ujung perjalanan pagi itu adalah sebuah tambak yang berlokasi dipinggir danau. Tenang dan damai disitu…ak pgn tau rasanya tinggal dirumah2 kayu nelayan tambak itu selama beberapa minggu, ntar kan tiap hari bisa naik sampan kecil berdayung2 di danau ditemani kabut pagi… hmm… sambil menulis puisi... ditemani istri...(alah...stop!)

Balik ke rumah pake becak aceh(tentu aja yg gada tulisan fear factor nya). Dan langsung siap2 buat menuju objek wisata danau yang sesungguhnya.

Spot pertama, adalah sebuah hotel yg punya view danau lut tawar sangat bagus. Nama hotelnya Renggali…

Cocok skali buat kalian yg pengen berhoneymoon ato pencinta nglamun. Kalo ak kesitu sendirian pasti bakal nglamun kyk orang bego ber-hari2 ato mungkin kalo duitnya cukup berbulan2.

Bener2 pemandangan yang breath-taking. Ketenangan danau yg bening. Dengan bukit2 sebagai background. Yaps, anda tidak salah….Indonesia memang sangat indah.



Setelah puas menikmati hotel view tersebut (Sstt… hotelnya baik lo, ga perlu bayar buat masuk kompleksnya dan liat2 pemandangan danau dari taman2 hotel…). Dari situ kami berencana mengitari danau dengan mobil. Di pinggir kiri pemandangan danau yg tenang dan di sisi kanan bukit2 hijau biru...



Berenti makan di sebuah pantai (habis ada pasir nya dikit seh…) katanya si disitu sering ada pacuan kuda liar. Tapi yg kita temui cuman patungnya ajah.Sebelumnya di kota kita sempet beli bungkusan nasi gurih rendang telor, jadi mampir numpang makan… sambil nikmatin pemandangan danau plus bukit2 nya…



Ada beberapa spot lagi di kitaran danau tersebut, yang layak dikunjungi. Yaitu Gua Putri Kes yg ada batu berbentuk manusia, dan tempat2 peristirahatan buat kita kita mandi2 serta nikmati pemandangan danau yg tenang.

Dari muterin danau tersebut, kami pergi ke tempat bernama Pantan Terong. Pantan Terong ini adalah puncak bukit dimana kita bisa melihat pemandangan seluruh kota takengon bersama danau lut tawar. Sebelumnya kami mampir buat makan Rujak Nanas Voles. Rasa nanasnya beda dengan yg biasa ak makan di jawa, yg ini berasa lebih manis dengan kandungan air lebih banyak. Perjalanan menuju Pantan Terong dipenuhi dengan salah jalan, terutama karena banyak bukit yg membuat kami bingung, dan orang yg ditanya juga aga ga jelas jawabannya. Tapi tetep bisa nikmatin jalan2 kesasar itu, karena kami dihibur dengan bunga2 dengan warna yg unik. Ada yg pink campur putih, ada mawar yg besar2 dengan warna kuning, pagar2 tanaman yg berwarna merah, jadi pengen bawa bunga2 dengan warna unik itu ke banda. Tapi katanya kalo di bawa ke banda jadi mati atau kalaupun hidup tumbuhnya tanpa bunga. Mungkin karena pengaruh perbedaan cuaca antara takengon dan banda.

Dan kemudian setelah menempuh perjalanan berputar2 melewati perkebunan kopi, jeruk, dan bunga2 itu. Sampailah kami di Pantan Terong…. disitu kami bisa ngeliat seluruh kota takengon beserta danau lut tawarnya. maknyuss banget deh disitu. sayang beberapa saat kemudian keburu ujan. jadinya kita harus cepet2 balik.

kyknya segitu dulu ya...terima kasih sudah mau membaca(ato cmn ngeliat pic2 yg ada) ampe akhir. i'll see u guys in the next post :)

Labels:

Akhirnya Masuk Lagi

12/13/2007 06:35:00 PM / / comments (3)

Alhamdulilah.....
Akhirnya bisa masuk lagi ke TK ini....
Berkat Bantuan dari si "Mbahnya" :-) Thanx banggets tuk Awan Cool.
Mungkin tuk sementara ini aja dulu tulisan ini karena kebetulan lagi sedang di luar daerah kerjaku.
Posisi skarang sedang di Kuta Cane-Ibukota Aceh Tenggara tuk Support kawan........
So....Thanx tuk Awan Cool
Salam Kenal Tuk Smuamua............

Labels:

Segarnya Udara Lereng Welirang (1)

12/06/2007 02:53:00 AM / / comments (9)

Perjalanan yang melelahkan

“Dingin banget oey!!” Kata ini terucap ketika motor Honda Supra 125R yang aku kendarai tiba di daerah Wana Wisata Air Terjun Dlundung sekitar pukul 21.00 tanggal 1 desember 2007. Terletak di lereng utara Gunung Welirang di ketinggian sekita 1500 meter dpl. Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto tepatnya.

Berarti sekitar 2 jam waktu yang aku butuhkan untuk menggilasi jalan Surabaya-Dlundung. Aku berangkat dari Surabaya sekiar jam 17.30. Jalanan macet luar biasa. Ini waktunya orang bubaran kantor. parahnya, temenku sempat cek-cok dengan pacarnya. Dia ijin mendadak gitu ke pacarnya. Trus pacarnya marah-marah. Setelah berdebat sekitar 30 menit akhirnya dia dapat ijin juga. Sebenarnya ini acara temenku tersebut. Sebuah LBB di Sidoarjo bernama InLAC yang dulu tempat dia berkerja ngadain acara outbond gitu. Karena temenku nggak jadi ngajak pacarnya, ya akhirnya ngajak aku. Hehehe… ya cuma serep sih…

Melewati jalan Daendels dari daerah Wonokromo-Surabaya ke selatan sampai Candi-Sidoarjo, aku berbelok arah. Dan ternyata kami salah berbelok. Harusnya sekitar 500 meter lagi, baru belok ke arah barat. Setelah ketemu masjid kami sholat dulu. Sekitar lima belas menit kami disini. Segera kami beranjak menuju mojosari. Setelah memutar kami langsung tancap gas kearah barat, ke daerah Tanggulangin. Kami lewati daerah sentra Tas dan Sepatu Kulit di daerah tersebut yang menyepi gara-gara lumpur panas yang lebih beken disebut Lumpur Lapindo tersebut. Setelah melewati kawasan itu kami berbelok kerah selatan, melewati jembatan layang diatas Tol Surabaya Gempol. Disini, beberapa hari yang lalu sempat meninggal dua orang pesepeda motor, gara-gara kunduran truk tua yang tidak kuat menaiki jalan layang tersebut. Sungguh tragis, nyawa di negeri ini sering dikorbankan oleh masalah-masalah sepele.

Sekitar lima belas menit kami sampai didaerah Tulangan. Sosok Sanikem atau Nyai Ontosoroh di tetralogi Buru menghayal di memoriku. dia berasal dari daerah ini. Ekonomi daerah ini digerakkan oleh industri tebunya, dari hulu sampai hilir. Persis sperti cerita Pram.

Aku terus mempercepat lari sang motor. Sampai juga di daerah Mojosari. Pembangunan di daerah ini menggeliat dengan hebat akibat Lumpur Lapindo. Jalur Mojosari memang jalur alternatif utama jika tak ingin melewati kawasan Lumpur. Jalanan dan juga jembatan dilebarkan setiap hari. Ternyata ada imbas positif juga dari Lumpur itu, meski cuma beberapa saja.

Di jalur Mojosari-Trawas yang menanjak, cuaca kurang bersahabat. Hujan turun, memaksa kami berteduh di sebuah warung. Dasar perut juga sudah lapar, kami segera memesan es teh dan nasi goreng. Sekitar 45 menit kami berhenti. Hujan menunjukkan internsitas yang makin berkurang. Kami segera beranjak. Udara yang mulai dingin tak menyurutkan niat kami. Motor segera aku pacu di jalan yang menanjak terus-menerus, tak kami temui jalan menurun, maklum kan lagi kedataran yang lebih tinggi. Hehehe…

Akhinya sampai juga di pos penjagaan. Ini yang bikin nggak maju pariwisata Indonesia, mereka sangat tidak ramah terhadap kami. Ramah aja nggak apalagi informatif, dan ini aku temui hampir disetiap tempat pariwisata. Hanya beberapa yang tidak. Jadi selain obyek wisata, tentunya SDM yang bergelut didalamnya harus ditingkatkan juga.

Aku segera mencari rombongan InLAC tersebut. Setelah putar-putar dan nggak ketemu, hehehe… temenku inisiatif menelpon. Setelah diberitahu tempat pastinya akhirnya ketemu juga. Mbok ya dari tadi nelponya mas!! Biar nggak capek nyariinnya. Hehehe…

Labels:

Takengon - The Highland of Aceh (1)

12/03/2007 02:18:00 AM / / comments (6)

Ada yg mengganjal dlm perjalanan kali ini, bukan hanya jarak tempuh 6-8 jam yg akan km tempuh tp jg kerjaan kantor yg tertinggal, kecocokan antar personel, maupun permasalahan2 antar individu yg bergabung pasti bakal banyak mempengaruhi mood perjalanan. Di satu titik sebelum keberangkatan ak berpikir untuk membatalkan keikutsertaanku, tapi pesona takengon yang ak baca dari internet dan dari cerita teman membuatku memutuskan untuk turut bergabung. Dan perjalanan ini adalah salah satu dari yg tidak dapat dilupakan keunikannya, karena unsur psikologis antar peserta yg ikut bercampur aduk saling kait mengait satu sama lain dan buat aku hal ini yg sangat ngganjel.

Bagiku perjalanan ke takengon kali ini merupakan gabungan dari mimpi indah dan mimpi buruk.Mimpi-kata yg tepat, karena hampir sebagian besar perjalanan ak tidur di bangku belakang innova dan bangun di saat kami berada di poin2 tujuan. Salah satu teman jaman kuliah dulu pernah menjuluki aku sebagai World Class Sleeper karena kemampuanku untuk tidur hampir dimanapun dan kapanpun. Tidur bagiku adalah eskapisme terakhir yg bisa ak lakukan. Biasanya sih dulu buat menghindari rasa laper atau keinginan refreshing jalan2 yang gak diijinkan oleh dompet. Tapi kali ini ak tidur krn hal2 tertentu yg kyknya ga etis kalo diomongin disini.

Dan jika di seluruh petualangan sebelumnya ak sangat menikmati perjalanan bagaimanapun parahnya, serta selalu berpedoman bhw “journey is more important than destination”, kali ini ak harus membaliknya. Efeknya sungguh menyakitkan, tp memberi pelajaran yg amat berharga. Tapi tenang aja, disini yg diceritain ttg mimpi indahnya aja kok, mimpi buruknya biar saya simpan sendiri, secara ga baek juga ngomongin orang hehe…

Ok awal perjalanan dimulai dari banda aceh dgn anggota 5 orang. Karena Deri diawali dari huruf D maka diputuskan dia sebagai Driver (otak-atik-gathuk), ainul sebagai co-pilot disampingnya. Dibelakang mereka duduk manis 2 orang wanita yaitu Desti:cewek jawa yg sgt njawani dan Tia yg tukang cengar-cengir. Kayaknya kalo ada bom-pun si Tia ini bakal tetep cerewet dan cengar cengir deh hehe… Lanjut, ngendon di jok belakang, tempat yg paling keras guncangannya adalah the one and only…. The legend himself… Awancool. Kalo ente semua ga percaya bahwa di jok belakang goncangannya paling besar, bisa tanya Ardi-tukang telkom yg pernah ngerasain digoyang kijang kapsul waktu perjalanan melewati wonogiri menuju pulau sempu di malang.

Dari banda aceh melewati sigli dan kemudian bireun. Perjalanan 216km dilewati hanya dengan satu kali kesasar karena mencari jalan ke pantai yg kelihatannya dekat ternyata malah muter2. Sepanjang perjalanan mata dimanjakan oleh bukit barisan disebelah kanan. Kalau liat di peta, bukit ini berawal dari aceh dan berujung di lampung. Ring of fire, jalur gunung berapi aktif yg sering membuat gempa dan hal2 lainnya. Indah sekali, berbaris panjang dan membuat hati para pecinta trekking gatal untuk menjelajahi nya. Some other time, hopefully…

Makan di Bireun sekaligus mampir di masjid agungnya. Aku suka hiasan mesjid agung itu. Simple tapi menarik. Berupa garis2 lengkung hijau yg ada di atas pilar2nya.

Dari kota Bireun kami mengarah ke selatan, kira2 80 km lagi nyampe di takengon. Tapi jalan nya mulai naik turun dan penuh dengan belokan2 curam. Untung bersama kami ada world class driver, untuk saat2 kedepan kami sangat bergantung pada ketahananan tubuh dan konsentrasinya. Gak rugi juga punya nama dengan huruf depan “D” betol ?. kami berhenti beberapa kali, salah satu nya di kali kecil yg airnya gemericik. Di jalan yang berkelak-kelok tersembut sempet tergoda dengan papan bertuliskan “kebun edelweiss” yang ternyata masih perlu manjat beberapa jam buat sampai disana.

Di kota takengon kami numpang nginep di rmh temen ainul yg juga anak BRR. Baik sekali mau menampung kami… makasih yaa… jadi hari kedua besoknya, rombongan kami bertambah satu orang… tungguin ya, cause hari selanjutnya yg bener2 eksplore takengon okeh…

Labels:
12/01/2007 11:32:00 PM / / comments (0)

MiRrOr

MirRor.., Mirror on the wall
(Aku pun mempertanyakan diriku sendiri)

" Apa yang tengah ku cari saat ini ??? "
Jawabnya tetap saja tak kutemukan

Yang ada hanya KEHAMPAAN
bahkan di titik KEJENUHAN

Seharusnya aku bisa tau apa yg kucari saat ini
setelah ku melihat diriku di cermin

Kata orang ;
"Dengan melihat cermin, kita akan tahu....,
Kehidupan apa yang akan kita jalani ??? Siapa kita sebenarnya ???"


Karena dengan melihat cermin...,
Kita akan berusaha tuk mengenalnya lebih jauh
Mengenal dan menyelami ekspresi wajah yang ada di dalam cermin itu
Mencari tahu apa sebenarnya ia mau
Setelah mengetahuinya...., lalu terkadang akan menyingkirkan yang tengah dijalani
Ketika tahu, semua ini tidak sesuai lagi

Yahhh...,
Sama persis dengan yang sudah kulalui
Gak kerasa sudah seperempat abad aku lalui episode hidupku
Tapi belum juga kutemui apa yang sedang kucari !!!!!
Bahkan setelah berjam-jam, kucermati wajahku di cermin ini

Tetap saja timbul sebuah pertanyaan :
"Cermin...,cermin....., Apa yang tengah kucari ?????"

Namun...,
tanpa kusadari.., nuraniku berbisik lirih :
"Selalu ada KEBAHAGIAAN melalui CINTA. CINTA akan datang lewat tangan-tangan insan lain di hari-hari yang telah dan akan kau lewati bahkan ditengah kepenatan dan kehampaanmu, walaupun kau merasa melewati ini semua dengan sendiri. Selalu ada bulan-bulan, dimana CINTA&KEBAHAGIAAN itu belum kau raih. Selalu ada tahun-tahun, ketika CINTA itu akan hadir dengan sendirinya tanpa kita sadari"


Yakinlah...,
Selalu ada waktunya semua yang kau cari, entah apa itu dan entah kapan !!!!!!

^_^ Keep IsT!QoM@h......,

Labels:
12/01/2007 11:04:00 PM / / comments (0)

"Cinta akan datang ketika berusaha menerima apa adanya yang ada"
"Berusaha SEMPURNA untuk mendapatkannya"
"Bukan mencari yang SEMPURNA tuk dirinya"

Biarkan CINTA yang akan menemukan jalannya sendiri

Ini Quote yg gw dapat dari intisari sehabis gw ngeliat film "Burung-burung Kertas"
Film Indie ini, gw bilang Touch banget
Mungkin karena gw lagi sensi
(ssstttt, Btw Sisi mallow gw tersalurkan abis nonton film ini ;p)

"Film ini walaupun Indie tapi Cool&Touch Abiz !!!Ibarat Masakan yang rasanya campur baur, ada Asem, Pahit, Manis & bikin Eneg " - Asumsi PoeGeekz ^_^

klo menurut SasaNasution- Editor Chief Majalah Provoke: " Film ini ibarat sebuah Kado yang isinya adalah MIMPI, CINTA &PENGORBANAN. Sedangkan cara berceritanya adalah bungkus kado yang ngeliatnya tambah penasaran"

Burung-burung Kertas adalah Kompilasi 3 cerita dari 3 sudut pandang yg berbeda dalam mengejar Mimpi dan Harapan tuk meraih KEBAHAGIAAN seseorang.
Jingga(Dewi Lie) yg lucu, polos, belajar memasak diam-diam tuk orang yang dia sukai semenjak ketemu di apartemennya. Dia pun selalu menguntit; menjepret; mengumpulkan foto2 si cowok.

Eros(Deddy Menuk)bekerja tak kenal lelah tuk orang yg ia sayangi, rela berkorban untuknya agar si gadis dapat bertemu&bersama orang yg ia sayangi.Tanpa sadar, ia juga mengumpulkan tutup kotak makanan menjadi serangkain puzzle hidup.

Dengan kesabarannya, Rima(Cindy Gusmala Rusli) tetap menunggu orang yg ia sayangi walau tlah terpisah jarak&waktu, sambil melipat 999 burung kertas. Dengan harapan setelah yg ke seribu kertas, Harapan & IMPIAN nya bisa tercapai.

Tali cinta diantara 3 karakter ini, menandakan bahwa CINTA bisa membuat orang berbuat Hal-hal tertentu dan kadang tak TERDUGA.
Terbukti, ke 999 burung kertas tersebut akhirnya digenapkan SERIBU oleh masing-masing karakter, dengan jalan yang mereka ambil sendiri buat dapetin apa itu BAHAGIA ?????!!!

"Let's Funding Guyz ^_^ "
Be B@ll of f1re, BuDdy

Labels:
12/01/2007 11:04:00 PM / / comments (0)

Cinta laksana Kupu – kupu
Makin kau kejar, makin ia menghindar

Tapi bila kau biarkan ia terbang, ia akan menghampirimu disaat tak kau duga

Cinta bisa membahagiakanmu,
tapi sering pula juga menyakitimu.

Cinta hanya terasa Istimewa apabila kau berikan kepada seseorang yang layak menerima cintamu

"Cinta akan datang ketika berusaha menerima apa adanya yang ada"
"Berusaha SEMPURNA untuk mendapatkannya"
"Bukan mencari yang SEMPURNA tuk dirinya"

Biarkan CINTA yang akan menemukan jalannya sendiri

Labels: