6/20/2006 02:40:00 AM / /

Komputer di kamarku kutaruh di meja kecil pendek, pengguna komputer kuseting lesehan. Tujuannya, supaya kaki kesemutan kalo pake komputer lama-lama. Tujuan lain adalah supaya kalo terjadi gempa bumi, komputerku tidak jatuh dari tempat yang terlalu tinggi.
Benarlah pagi itu 27 Mei 2006, setelah malamnya aku nglembur bikin 90 poster anti pornografi dan pornoaksi untuk melanjutkan rangkaian aksi sejuta ummat Hizbut Tahrir Indonesia menolak pornografi dan pornoaksi yang sudah diadakan sebelumnya di Jakarta, bertepatan dengan hari ultah temanku Awan Rimbawan, kota Bantul diguncangkan oleh gempa bumi hebat, dan komputerku tetap selamat.
Hari ini akhirnya rumah kontrakanku sudah dibersihkan, barang-barang sudah dirapikan, komputerku sudah dinyalakan, Kodok Zuma sudah bisa kumainkan, Guerilla Radionya Rage Against The Machine sudah dikumandangkan, dan tulisan postingan ini pun sudah bisa kuketikkan.
Walau retakan dinding masih sangat mengkhawatirkan dan puluhan genteng pecah belum tergantikan, semoga hari ini, esok, dan beberapa minggu lagi, Tuhan untuk sementara tidak menurunkan hujan lebat lagi di kota Bantul.

Alhamdulillah, di kontrakanku semua anak pasti saling membangunkan untuk sholat subuh. Pagi itu aku mematikan winamp yang nyala sejak semalam memainkan ratusan lagu-lagu mellow pengantar tidur. Segera setelah itu bumi bergoncang. Ooh, begini to rasanya gempa? Aku selalu bertanya-tanya sejak kecil, kenapa sekedar tanah bergoyang saja bisa membunuh ribuan jiwa? Aku hanya terduduk menunggu gempa reda, tapi bukannya reda, gempa malah membanting-banting komputerku seakan-akan ingin mengingatkan, "Lariii guoblok!" Aku pun beranjak seiring teman sebelah kamarku meneriakkan takbir berkali-kali, "Allahu akbar! Allahu akbar!"
Aku lari ke halaman belakang, teman-temanku sudah ada di situ. Ternyata tembok tinggi di halaman belakang sudah runtuh dan bahkan hampir nimpa teman-temanku di sana. Setelah itu kupikir udah gitu aja, masuk rumah dan beresin semuanya. Tapi kemudian dari belakang rumah aku denger tangisan histeris bu Mugini, pemilik rumah yang kukontrak. This can't be good... Bu Mugini minta kita nolong ibunya yang sudah sepuh dan nggak bisa lari keluar. Thank God, ibunya bu Mugini nggak papa karna memang rumahnya tidak begitu runtuh. Tapi tentu saja itu bukan happy ending. Segera setelah itu satu demi satu tetangga berteriak minta tolong. Aku baru sadar ternyata gempa meruntuhkan banyak rumah tetanggaku.
No recess. Banyak tetanggaku jadi korban. 13 orang meninggal, yang luka entah berapa. Semua jalan masuk dan keluar desaku tertutup puing, tidak sebentar untuk menyingkirkannya supaya mobil bisa keluar membawa para korban ke rumah sakit.

Isu Tsunami
Entah jam berapa, pas kita semua sudah bisa menarik napas lega, kita mulai bertanya-tanya, "ini gempa dari merapi atau laut?" Sebelum sms dari seorang kawan di magelang masuk dan menceritakan bahwa daerahnya aman dari gempa. Kita pun sadar bahwa gempa ini dari laut sesaat sebelum orang-orang berlarian panik sambil berteriak, "Air dari selatan, lari ke utara!!!!"
Benar-benar lautan manusia di jalan berbondong-bondong menuju utara, jalan 2 arah menjadi 1 arah. Beruntung aku cukup tenang di daerah Krapyak kurang dari 1 km dari tempatku, di sana orang-orang mencoba menghentikan arus kepanikan itu. Ada 2 pilihan, tsunami atau tidak tsunami. Keduanya sama-sama tidak bisa diakses bukti kebenarannya, oleh karena itu aku lebih memilih informasi bahwa tsunami ini hanyalah isu. Kita pun bisa tertawa ketika mendengar kabar kepanikan dan orang berbondong-bondong lari ke utara juga terjadi di tempat kawan di km 9 jalan kaliurang. Kalau yang di jalan kaliurang saja merasa perlu lari berarti kita di bantul sini sudah tidak ada harapan lagi... Seorang temanku yang sempat berbisik, "Kalau memang sudah waktunya kita mati hari ini, bukankah kita sudah siap?"

Turun Hujan
Seperti ulangan umum yang kadang bikin stress, ujian dari Allah kali ini juga begitu. Gempa susulan terus datang. Tidak ada yang berani masuk rumah, lha sebagian besar memang sudah tidak punya rumah, listrik yang tentu saja harus dipadamkan entah sampai kapan, ditambah hujan deras yang turun setiap malamnya.
Setelah makan malam aku pergi membawa misi suci amanah dari teman-teman. Aku harus bersepeda menuju rumah teman di Jalan Kaliurang km 7. Bawa wadah untuk membeli air dan bensin juga bawa handphone teman-teman untuk dicharge. Ada untungnya juga, aku jadi tidak merasakan sengsaranya kedinginan oleh hujan di Bantul.

Makan Enak
Aku kurang tahu di daerah lain, tapi tentunya tidak seberuntung kita yang bisa makan enak dari swadaya para tetangga. Hari pertama kita makan tongseng buntut sapi, esok paginya kita bisa sarapan bebek goreng. Betapa baiknya temenku yang tinggal di tenda di lapangan kampus ISI bersama banyak mahasiswa lain yang kehilangan kos-kosan. Pagi-pagi dia datang dan minta maaf. Dia menyesal tidak bisa membawakan sisa nasi yang dimasak bareng-bareng di tendanya. Nasi yang sudah hampir basi dan hanya bertemankan sedikit kecap. Dia menyesal tidak bisa membawakan nasi tidak layak makan itu untuk kita yang dia yakin pasti kelaparan. Betapa mulia hatinya, padahal kita semalam makan tongseng buntut yang nikmat...

Ngungsi... Atau Liburan?
Banyak hal yang membuat kita terpaksa harus cabut dari Jogja for a while. Aku memilih tidak pulang ke Jakarta karna terlalu jauh dan mahal, padahal aku masih harus balik ke Jogja lagi. Aku memilih ke Pemalang, sekalian menemui Anip dan teman-teman lama di sana. Aku juga ada Tante di Pemalang, jadi aku ada 2 tempat numpang di Pemalang. Tapi sungguh sial nasibku ini. Karna aku bolak-balik terus dari rumah Tante ke rumah Anip, aku dipaksa makan 2 kali lipat dari normal. Abis sarapan di rumah Tante, terus pergi ke Anip, di Anip pasti disuruh makan lagi. Begitu juga sebaliknya, dan keadaan itu terus berlangsung selama 10 hari aku di Pemalang. Apa gunanya gempa kalau berat badan tidak turun?
Di Pemalang Anip punya 3 ritual yang aku sama sekali tidak bisa memasukinya: Basket, main PS, dan tidur. Kalau ritual itu sudah dijalankan, tinggallah aku bengong sendiri tanpa teman. Thanks to Puffy yang mau-maunya ngeladeni sms kesepianku. Makasih ya Papaf...

Sekarang aku sudah di Jogja lagi. Things are so much better now. Makasih buat semuanya. Makasih atas segala bantuannya, logistiknya, dan doanya... Semoga Allah memberikan pahala untuk keikhlasannya.

Labels:

1 comments:

Anonymous on Saturday, June 24, 2006 5:54:00 AM

mangtaph yo... bener2 pengalaman yg tak tergantikan ya...
jadi kehabisan kata2....
ak ke jogja buat ngeliat merapi, dan ak pergi dari jogja 2 hari sebelum gempa....
pas dipemalang cuman bentar buat ke semarang ndherek aken bunda yg pengen ketemu anak yg kuliah di smg...
anyway... yg sabar ya yok... yg sabar ya jogja...
ak ikut berdoa kok...

Post a Comment