Sebentar lagi lebaran tiba. Akan ada hajatan besar yang dilakoni oleh bangsa indonesia. Hajatan yang akan melibatkan jutaan orang dan trilyunan rupiah yang akan mengalir dari kota-kota ke desa-desa. Mudik namanya. Entah sejak kapan hajatan itu berlangsung. Tidak ada catatan resminya.
Saya akan jadi salah satu dari mereka. Banyak pemudik yang rela menempuh jarak ribuan kilometer atau berhari-hari untuk merayakan lebaran dikampung halaman. Bahkan banyak yang rela berlelah-lelah ria di gerbong sesak kereta api ekonomi dengan bau yang sangat tidak enak. Mereka berpikir "Yang penting sampai dan ketemu handai tolan." Bahkan saya pernah menjumpai orang yang rela tidur di kamar kecil gerbong-gerbong pengap tersebut. Uhh... begitu dasatnya budaya mudik itu.
Ada fenomena menarik tahun-tahun terakhir ini yang saya jumpai dikampung kecil saya yang berada dipelosok Madiun. Setiap mudik seperti ada perlombaan untuk saling memperlihatkan kesuksesan di perantauan. Ada yang bawa kendaraan pribadi, sewaan, kreditan yang baru di bayar dua bulan atau menyewa mobil bersama sopir. Begitupun soal pehiasan dan pakaian yang dipakai. Huuuh...berat boss.
Memang ada pendapat yang menurutku kurang tepat selama ini. Setiap perantau harus sukses di perantauan, jika belum atau tidak sukses mereka malu untuk kembali ke kampung halaman. Dan kesuksesan selama ini hanya dimaknai dengan materi (baca: uang). Tidakah pengalaman, kedewasaan, kematangan mental dan masih banyak lagi nilai positif yang didapat merupakan suatu kesuksesan. Karena akupun mengalami sindrom itu. Hehehe.
Sekarang memang tergantung niat dalam memaknai lebaran. Apakah niat pamer kesuksesan, bersilaturahmi dengan sanak saudara, jalan-jalan mencari udara segar karena sumpek dengan rutinitas kota dan masih banyak lagi yang lain. Kalau niatnya melenceng dari nilai-nilai suci lebaran ya saat sekarang meluruskan niat itu, terutama buat saya pribadi. Jadi setelah lebaran kita benar-benar fitri.
Ada satu hal lagi yang harus diperhatikan juga, keselamatan kita selama diperjalanan mudik dan balik. Baik menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Berhati-hati selama diperjalan sehingga kita bisa merayakan lebaran dengan kebahagian.
Maafin Awak jika awak silap.
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1429 H !!!
Salam otak terbatas dan keterbatasan otak!!
Banyak yg menanyakan alasan saya berhenti bekerja. Mengapa harus resign ketika kondisi kontrak masih panjang dengan gaji cukup, lingkungan nyaman dan juga karir yang menjanjikan ? Ada yang menyangka bahwa mungkin saya ada masalah di dalam pekerjaan. Ada yg mengira-ngira bahwa saya sudah diterima di tempat lain dengan gaji yg lebih besar. Ada juga yang berasumsi bahwa saya mau memulai kembali petualangan saya setelah terlalu lama berada di zona aman. Dan saya tidak menemukan jawaban yang bisa memuaskan rasa ingin tahu mereka yg coba menerka-nerka alasan dari keputusan yg saya ambil. Bahkan jika mau jujur, saya sendiri tidak bisa memberikan jawaban sederhana pada diri sendiri selain: memang begini adanya :)
Jangankan ditanya mau kemana dan mau apa, la wong alasannya saja saya tidak menemukan yg prinsipil.
Saya memang beberapa kali berpindah-pindah pekerjaan. Saya temukan bahwa semenjak kelulusan belum pernah saya menetap selama genap satu tahun bekerja di suatu tempat. Juga di Nanggroe Aceh Darussalam yang mempunyai alam yg menakjubkan ini, kurang beberapa minggu untuk berkata genap 1 tahun. Namun jika sebelumnya saya tahu pasti alasan resign dan apa yg ingin saya lakukan. Kali ini saya tidak benar2 tahu alasannya tapi yakin bahwa keputusan ini yg harus saya ambil. Entah kenapa akhir2 ini alasan dan keinginan tidak begitu penting lagi dalam pikiran saya. Saya lebih mencintai tiap moment yg saya lewati tanpa berusaha melabeli dengan parameter-parameter yg menunjukkan ketidak-puasan di masa kini dan menjanjikan sesuatu di masa depan.
Ada yang bilang jika kita tidak punya keinginan maka hidup akan statis dan menjemukan. Ada yang berkata bahwa ketidak-puasanlah yang membuat hidup kita maju. Ada juga yang bilang kalau kita terlalu cepat puas maka kita akan terlindas oleh roda kehidupan yang selalu bergerak.
Tapi saya temui hal yang lain dalam menghidupi tiap detik saat-saat yang saya lalui. Jika sebelumnya saya maju dengan ketakutan dan kekhawatiran, kali ini saya maju dengan sekedar maju.
Maksud saya, bagaimana tanaman tahu bahwa ini saatnya bertumbuh keatas? bagaimana dia tahu bahwa inilah saatnya menumbuhkan kuncup? bagaimana anak burung tahu bahwa ini saatnya menerima makanan dari induk ataupun saat untuk jatuh dari ketinggian untuk belajar terbang? Mungkinkah semua ini adalah sebuah proses yang alami?
Adalah pikiran manusia yang menganalisa bahwa burung ini memiliki waktu sekian minggu untuk disusui induknya, sekian minggu untuk belajar terbang. Atau bunga ini akan muncul dalam waktu sekian bulan dan bunga yang itu akan muncul dalam beberapa tahun. Banyak orang dengan pikirannya mengkotak-kotakkan, menganalisa, memecah-mecah dalam fase2 untuk mencoba menemukan alasan dan memastikan masa depan. Padahal bisa jadi itu semua adalah proses kehidupan yang dijalani oleh tiap makhluk secara alamiah. Tidak cukup dengan itu, kita memecah2 hidup kita sendiri dengan berbagai label dengan dalih untuk belajar dari masa lalu agar mendapatkan yang lebih baik di masa depan dan kemudian terperangkap dalam ketakutan dan kebingungan akan ketidak-pastian. Banyak orang termakan analisa-nya sendiri. Tidak terkecuali saya, seringkali seperti itu.
Sering saya berkata untuk memandang sesuatu secara holistik tanpa mengalaminya sendiri dan membiarkan itu hanyalah menjadi sebuah pengetahuan intelektual.
Saat ini saya yakin bahwa tiap makhluk tahu kpn waktunya masing-masing untuk melakukan sesuatu dalam suatu waktu. Saat inilah tumbuhan memekarkan bunganya, saat sekarang anak ayam berciap-ciap mengikuti induk, saat ini semut melayani ratunya. Namun apa yang membuat banyak orang tidak mengetahuinya adalah karena ukuran-ukuran yang dibuat oleh diri sendiri berdasarkan kehidupan orang lain. Wah, dia sudah lulus, saya belum. Wah dia sudah kerja dengan gaji sekian, saya belum. Wah dia sudah punya anak dua saya belum, Wah dia sudah punya rumah, saya belum. dll.
Disaat kita mengukur diri kita sendiri dengan realitas luar, maka disaat itulah kita mengingkari bahwa kita adalah bagian dari alam semesta yang unik dan memiliki kebijaksanaan sendiri-sendiri untuk menjalani tiap momen kehidupan dalam waktunya masing-masing.
Seperti kata-kata Oracle pada Neo:
"...being the one is just like being in love. No one needs to tell you you are in love, you just know it, through and through."
dulu saya menganggap bahwa tiap pertanyaan selalu mempunyai jawaban.
Dan lalu saya berusaha mencari pasangan jawaban dari pertanyaan yang selalu muncul mengganggu.
Saya membaca arti simbol, menterjemahkan berbagai pertanda, melupakan apa yg ada. Saya bertanya, mencari, kebingungan untuk kemudian merasa mendapatkan jawaban, sedikit.
Dan lalu, jawaban yang sedikit ini ternyata tidak memuaskan. Alih2 mencerahkan, jawaban ini ternyata berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan lain yang kemudian harus saya telusuri lagi satu demi satu untuk memuaskan keinginan saya atas pasangan jawaban.
Yang terjadi adalah saya melalui jalan yang sama kembali. berputar-putar diombang-ambingkan oleh kebingungan dalam hubungan antara pertanyaan dan jawaban. telur dan ayam. ayam dan telur.
Tapi mungkinkah ada pertanyaan yang memang akan tetap berupa pertanyaan?
Pertanyaan yang ada, dan muncul begitu saja tanpa dimaksudkan untuk berpasangan dengan jawaban?
Pertanyaan yang berupa cermin, dan bukan digunakan untuk membandingkan jawaban mana yang benar dan yang salah. Bukan untuk mengkotak-kotakkan antara jawabanmu ataupun jawabanku, tetapi ada secara sederhana tanpa perlu diperumit oleh segala asumsi, perumpamaan, skenario, riwayat, atau apapun juga.
sahabat, pertanyaan apakah yang sering muncul dalam benak anda hari ini?
Kemarin, saya mendapatkan kesempatan berbincang dengan salah seorang kawan.
Dia bercerita tentang pencarian, kemudian terlintas di benak saya suatu hal.
Selama ini saya selalu diajarkan untuk mencari. Untuk mendapatkan sesuatu, saya harus mencari hal itu.
Kemudian mungkin saya berusaha mencari untuk selanjutnya saya mendapatkan apa yang saya cari. Lalu saya merasa puas karenanya, sedikit berbangga, mungkin melihat yang lain gagal timbul sedikit rasa sombong.
Skenario lain saya menghabiskan banyak waktu untuk mencari, tetapi tidak mendapatkan apa yang saya cari. Dan saya kecewa, frustrasi, merasa gagal. Mungkin melihat yang berhasil timbul rasa iri, yg jika diteruskan menjadi dengki. saya berhenti disini, menyimpan semua perasaan itu rapat-rapat. Lalu memulai pencarian lain.
Atau bisa saja saya tidak puas, saya melipat gandakan usaha pencarian saya. Kembali mencari kesana-kemari, menghabiskan lebih banyak waktu, mengalami kembali rasa iri, frustrasi, perasaan tidak lengkap, prihatin, khawatir akan masa depan. Tetapi tetap saja tidak mendapatkan apa yang saya cari. Namun ketika saya berhenti, kecapaian dipermainkan oleh pikiran, tiba-tiba saja saya mendapatkan apa yang saya cari begitu saja.
Pikiran dualitas selalu mengakui kedua sisi. Ada kanan karena ada kiri. Ada baik krn ada buruk. Ada mendapatkan krn ada mencari. Maka itu saya menganggap bahwa kemungkinan terakhir (mendapatkan karena berhenti mencari) adalah juga berada dalam dualitas mencari dan mendapatkan. Saya berpikir bahwa walaupun saya mendapatkan ketika berhenti mencari, tetapi hal itu terjadi karena diakibatkan pada awalnya saya melakukan usaha pencarian.
Tapi mungkinkah, dalam pemikiran itu sebenarnya saya masih terperangkap dalam ilusi pencarian? Maksud saya, benarkah saya akhirnya mendapatkan karena saya memulainya dengan pencarian?
Bagaimana jika ternyata "itu" sudah ada bahkan sebelum saya memulai pencarian?
Bagaimana jika ternyata "itu" ada begitu saja diluar hubungan pencarian-penemuan?
Jika benar "itu" ada bahkan sebelum saya memulai pencarian, bisakah "itu" disebut penemuan?
Mungkinkah dengan mengalami kesadaran ini saya kemudian mengerti bahwa semua konflik, stress, perasaan tertekan, perasaan takut, perasaan gagal, perasaan rendah diri, perasaan sombong, perasaan frustrasi, iri-dengki yang timbul dari drama pencarian sebenarnya sama sekali...sama sekali tidak diperlukan?
"Berhentilah mencari maka engkau akan menemukan". Dan "penemuan" yang ini adalah sesuatu yang mungkin tidak berkaitan dengan pencarian ataupun berhentinya pencarian.
Sahabat, apa sebenarnya yang kita cari? mengapa kita mencarinya? apa yang akan kita lakukan setelah mendapatkannya? mengapa kita bahkan tidak bisa sekedar mengalami hidup, disaat ini?
ente keluar kerjaan lagi boss???
wah selamat ya!!! anda berani keluar dari cangkang anda, selamat!!!
Satu kalimat buat anda>>>> Kapal emang aman jika bersandar di dermaga, tapi bukan untuk itu sebuah kapal dibuat!!!.
jadi ya selamat berlayar lagi yah!!!! good luck!!!
Sudah lama sekali rasanya.... nggak upload di blog ini. sebenarnya tidak ada alasan, kompie rusak, nggak ada waktu,atau alasan lain sebagai pembenaran. yang mungkin lebih tepatnya karena niat ngapdet yang kurang aja. sudah lebih empat bulan oey.
mulai bulan september ini saya akan berusaha untuk memosting deui. meski nggak sekeren awancool ataupun sweetjilan. ya baru segini yang saya bisa. ya setiap orang diberi kemampuan berbeda. makanya cara memandang sesuatupun juga berbeda.
saya yakin setiap orang memiliki perbedaan dalam melihat sesuatu. tinggal dari mana kita lihat sudut mana. meskipun melihat dari sudut yang sama pun belum tentu sama menilainya. contohnya ketika kita melihat novel teenlit. ada yang bilang itu hanya mainan. ada yang bilang kita harus mulai dari yang mudah dulu. teenlit penting karena berguna untuk menumbuhkan minta baca, dan masih banyak lagi yang berpendapat berbeda. banyak faktor yang memengaruhi, bisa umur, kebiasaan, hobi dan ah pusing oey...
Udah kodratnya kita dibuat beda ma tuhan. ada miskin kaya, pintar oon, baik buruk dll. biar dunia nggak boring kan!!!!. coba banyangin kalo dunia ini isinya sama semua...ihh ngeriiii....makanya dunia ini indah kan!!!
Beberapa hari yang lalu yang lalu abdi ketemu jeung teman-teman kuliah dulu. mereka sudah ya lumayan berubah lah.. ada yang lebih baik dari pada waktu kuliah, tapi ada yang lebih ancur...hehehe... ini menurut ukuran saya loh...
banyak cerita dari mereka. ada yang kerja dengan gaji yang luar biasa, ada yang ditempat biasa, ada yang buat makan saja susah(kemungkinan aku masuk yang golongan ini), pengusaha perminyakan sukses dengan puluhan bahkan ratusan juta untung bersihnya, ada yang udah menikah, jomblo(masuk lagi nih), pacarnya cantik banget, pacarnya biasa ajah dll.
sempat ngiri juga lihat mereka yang menurut saya lebih sukses dari saya. tapi ngiri doang nggak ngaruh apa-apa, dan sering membuat nggak bahagia(nggak enjoy je!!!). juga sempet kasihan ngelihat yang lebih susah dari aink(menurut ukuranku lho!!!).
kemarin sempat merenung(ceile...merenung je?? nggak salah!!!) jika dipikir-pikir emang gaji, pacar dan tetek bengek itu ngaruh banget ya ma kebahagiaan. tapi kan itu kan sebenarnya ngaruhnya makin kecil jika kita nrimo(bahasa yang lebih keren bersyukur), bahkan bisa ilang sama sekali jika udah nggak terikat ma dunia(ini kelasnya sufi2 boss!!).
makanya dari pada mikirin sesuatu yang nggak bisa kita dapet mendingan kita syukurin aja yang kita punya sekarang. harapan untuk lebih baik memang perlu, sangat perlu bahkan karena itu energi kita buat terus berusaha.
jadi mungkin langkah terbaik yang bisa kita ambil adalah mensyukuri keadaan kita sekarang dan tetep terus berusaha. nggak perlu ngiri2 atau mikirin orang lain, biarlah dia lebih sukses atau lebih tajir, yang penting kita enjoy menjalani hidup ini, tanpa berhenti untuk berusaha lebih baik.
ooh iya ini kan lagi puasa nih....
selamat menunaikan ibadah puasa ya!!
trus maapin ya jika saya banyak salah!!!
maapin yahhh!!

ada yang bilang, lebih baik katakan kejujuran walau itu menyakitkan. namun seringkali saya sulit untuk berkata jujur. tidak jarang disaat ingin berkata jujur, yang terucap justru kebohongan. dan untuk pembenaran, saya kerap menyebut itu sebagai white lies.
Sering saya berbohong agar kebodohan saya tidak tampak dimata orang lain. Dilain kesempatan saya berbohong agar kecerobohan saya tertutupi. Dan setelah melakukannya, saya akan berjanji bahwa ini adalah kebohongan terakhir saya. Suatu saat nanti, jika bertemu dengan keadaan yang serupa saya akan membayarnya dengan kejujuran.
Tapi hal itu tak pernah terjadi, karena bagaimanapun saya tak pernah bisa lepas dari kesalahan, lupa, atau kecerobohan.
Sebenarnya, saya bahkan tidak ingin terlihat sebagai pembohong walaupun saya melakukan kebohongan. dan jika telah sampai di titik itu kebohongan akan bergulir seperti bola salju yg turun dari atas bukit *blom pernah liat salju sih, tp maksutnya bakal terus membesar ^_^V*
jadi, kenapa usaha saya untuk selalu jujur tidak pernah berhasil?
mungkinkah permasalahannya bukan terletak pada usaha saya untuk berkata jujur?. Mungkin permasalahannya adalah pada nilai yang saya lekatkan pada diri saya. Saya ingin terlihat pintar, jadi saya berbohong menutupi ketidaktahuan saya. Saya tidak ingin terlihat sebagai orang yang ceroboh, dan pelupa. Saya ingin reputasi saya tidak tercemar sehingga saya mengarang berbagai cerita.
Kemudian sebuah pertanyaan muncul: jika saya bisa memandang diri saya apa adanya, mampukah saya mengucapkan kebohongan lagi?
sahabat, gambaran-diri yg manakah yang sering anda lindungi dengan kebohongan?
kebijaksanaan tidak bisa diikat, mencoba melakukannya berarti memasung nilai kebebasannya dan menjadikannya tidak fleksibel.
Labels: awancoolresign nih resign,
dah mulus resign dari UNOPS, eh ada tawaran dari UNICEF yang menggoda
pekok jaya...hehehe...
*update, keputusannya tawaran unicef tidak sayah ambil*
*hidup pekok jaya ;))*
Hari Jumat kemarin salah satu teman kantor saya meninggal dunia. Sekian lama bergelut dengan leukimia, chemotherapy di malaysia, dan juga berbagai pengobatan alternatif sebagai upaya penyembuhan, rupanya Tuhan mempunyai rencana lain.
Dari Banda Aceh, almarhum dibawa ke lhokseumawe (lima jam perjalanan), untuk disemayamkan disana. Saya dan seorang dua orang teman berkesempatan untuk mengiringinya ke lhokseumawe.
Dia meninggal muda, 29 tahun. Meninggalkan seorang istri dan seorang anak perempuan yang genap berumur 2 tahun oktober besok.
Sepertinya kemarin dia masih disini, ngobrol dan tersenyum bersama teman2. Saat melihat dia dimandikanpun, saya melihat dia seperti sedang tidur dan ingin membangunkannya.
Selamat tinggal sahabat, saya yakin Tuhan juga telah menyiapkan suatu rencana untuk anak dan istri yg kau tinggalkan. Terima kasih atas perjumpaan kita dan semua kebaikanmu. Sampai jumpa kembali disana nanti.
Belasan tahun yang lalu saya duduk di sini merenung...
Melihat diri saya
Sering bertanya dalam hati kenapa saya tercipta seperti ini
Bertahun-tahun saya berjuang untuk berubah tapi tetap saja sama
Saya pun putus asa
Mencari dan mencari..berjalan dan berjalan....
Sampai suatu ketika saya merasa lelah dan berhenti mencari tapi tetap berjalan
dan di sinilah saya akhirnya setelah berlalunya waktu menyadari bahwa....
ternyata apa yang saya cari ternyata ada di sini, dalam diri saya sendiri
mungkin segala sesuatu yang belum saatnya biarpun saya kejar dan perjuangkan mati2an pun tak kan saya temui
tapi bukan berarti "rentang waktu perjalanan menuju' menjadi sia-sia
Terkadang saya merasa lucu ketika mengingat betapa bodohnya saya di masa lalu dan anehnya sekarang pun terkadang saya tertawa dalam hati ketika apa yang saya anggap 'imposible' dalam diri saya ternyata 'possible' di saat ini...
Saya tidak tahu apakah yang saya alami di alami orang lain tapi yang jelas saya selalu berkata kepada teman2 saya, "Kamu mungkin lelah dan berhenti mencari tapi satu hal, jangan pernah berhenti berjalan"
kosong adalah berisi
berisi adalah kosong
kehidupan di dunia ini hanya fana dan penuh samsara
(dijiplak dari kata2 biksu Tong dari film monkey king)
Artist Heather Gorham's interpretation of the monkey mindAda suatu waktu dimana saya pernah bahkan seringkali merasakan kebingungan dalam memilih. Mungkin ini terjadi karena saya terlalu banyak punya ide dan sering menghayal. Beberapa orang yang ada didekat saya berkata bahwa saya sulit diduga. Mungkin juga ini adalah hasil dari pikiran saya yang liar dan meloncat-loncat.
Dalam memandang masa depan pun saya menggunakan pikiran saya yang liar. Saya selalu punya banyak rencana dan banyak keinginan dalam satu waktu sekaligus. Seringkali belum terwujud keinginan A, saya sudah berkeinginan hal yang lain. Belum selesai sebuah project, saya sudah mengangankan berbagai project yang lain. Seorang kawan pernah berkata bahwa kelemahan saya adalah sangat sulit untuk fokus.
Kemudian saya mencoba berpikir. Dan ternyata betul bahwa saya sulit untuk berfokus dan suka memulai banyak hal sekaligus. Banyak hal dimasa depan yg saya angankan, membuat saya tidak betah terhadap hidup saya saat ini. Banyak hal di masa depan yg ingin saya lakukan, sehingga saya selalu cepat2 ingin sampai di masa itu. Kalau disini, ingin disana. Sudah disana, ingin disitu. Mencapai ini, mendambakan yang itu. Kehilangan yang itu, menyesali yang ini. Kemudian seorang kawan berbaik hati mendiagnosa bahwa saya mengidap monkey mind.
Itu baru kaitan dengan masa depan, belum dengan penyesalan masa lalu. Penyesalan jalan yang saya ambil, langkah yang tidak saya ambil, pengalaman yang saya cap buruk. Sehingga hidup saat ini disiksa oleh sampah masa lalu dan liarnya keinginan masa depan.
Untuk "mengobati"nya saya mencari berbagai metode. Dari membaca berbagai buku tentang teknik konsentrasi dan motivasi, sampai mengikuti seminar-seminar dengan berbagai pembicara untuk menghilangkan "penyakit" ini. Tapi tidak ada efeknya. Sepertinya, saya tidak berjodoh dengan teknik2 yang saya temui itu.
Sampai kemudian saya bertemu dengan cermin yang jernih. Tidak ada apa2 disana. Cermin itu tidak memberi tahu apa-apa. Yang ada hanya saya, apa adanya
Perlahan saya menyaksikan, bahwa monkey mind adalah program pikiran. Dan semua teknik yang saya pelajari adalah juga program pikiran. Pikiran tidak bisa mengatasi pikiran. Itu seperti sebilah pisau yang mencoba menusuk dirinya sendiri. Tidak akan berhasil. Dibutuhkan level kesadaran yang lebih tinggi. Kesadaran yang bukan lawan dari ketidaksadaran.
Kemudian dengan cermin itu saya mengintip kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang bukan lawan dari ketidak-bijaksanaan. Disitu saya dapat melihat bahwa pencerahan bukanlah tujuan, perubahan bukanlah pencapaian, tapi adalah sekedar proses itu sendiri. Tiada lagi usaha untuk menghilangkan monkey mind, hanya tersisa keikhlasan untuk memeluknya.
And then I know, that life is beautiful in its simplest,original form.
Labels: awancool
saya terlalu sering mencoba
terlalu banyak ingin menjadi
sehingga sering lupa menyadari keberadaan saya
kali ini saya tidak berusaha
saya tidak mencoba
hanya menjalani
cause it is not about trying, it is about realizing my living being
saya sering mengeluh bahwa gaji yg saya terima kecil tapi jarang bersyukur bahwa kebutuhan yang harus dipenuhi sering tertutupi oleh rejeki yang datang.
jadi rejeki mmg sudah ada yg mengatur, dan kebutuhan juga sudah ada yg ngukur
what I have to do is to give my best without stress :)
secara hakikat, tidak ada yang terlalu cepat maupun terlalu lambat
karena semua indah, pada waktunya masing-masing.
ketika sebuah pengalaman hidup menjumpai saya, seringkali saya dapati bahwa saya membuka kembali memory-memory lama. Mencari tahu kira2 strategi apa yang bisa digunakan untuk menghadapi tantangan yang saat ini.
Saya berhadapan, saya mengingat. Dari ingatan itu timbul ketakutan(jika pada pengalaman yang lalu saya gagal) atau timbul kepercayaan(jika pada pengalaman yang lalu saya berhasil).
jika pada pengalaman yang lalu saya berhasil, maka saya akan lebih percaya bahwa saya bisa mengatasi masa sekarang, saya akan lebih menikmati, saya akan lebih yakin. Tapi apakah itu menjamin kesuksesan? banyak variabel yang berbeda dari dulu dan sekarang. dan jika kemudian hasil dari strategi lampau tidak sesuai dengan yang diharapkan, saya mengalami kekecewaan. Bagaimana mungkin? dulu bisa berhasil, kenapa sekarang gagal?
Jika pada pengalaman yang lalu saya gagal, maka saya akan dibayangi ketakutan. Saya akan sering merasa khawatir. Benarkah strategi yang saya pilih? Bagaimana bila saya telah mengerahkan segala kemampuan dan gagal seperti masa lalu? Jika kemudian gagal lagi, maka saya akan mengalami kekecewaan dan mencari pembenaran. "sudah dibilang ga usah mencoba","saya mmg ditakdirkan tidak berbakat di bidang ini". Atau jika berhasil kita akan mengalami keyakinan...
kembali ke pola diatas, begitu seterusnya... silih berganti..
tapi apakah itu satu-satunya pola dalam menghadapi pengalaman hidup? mungkinkah ada hal yang lain?
saya adalah kumpulan ingatan masa lalu, oleh karena itu saya terikat dengan hasil dari masa lalu. tapi apakah masa lalu menjamin hasil dari masa sekarang?
apa yang akan terjadi, jika saya sekedar melihat, tanpa mengingat?
akankah itu akan menjadikan saya melihat pengalaman kehidupan dengan apa adanya?
Setiap hari adalah hari yang berbeda, setiap hal adalah pengalaman baru, dan tiap detik adalah detik yang baru, bukan tantangan, ancaman, cobaan...karena label tantangan, ancaman, cobaan muncul karena adanya ingatan.
Dan mungkinkah, label kalah, menang, sukses, gagal, juga muncul karena adanya ingatan pada masa lalu?
...
sahabat, mungkinkah kita terlalu banyak memberi porsi dalam mengingat, dan terlalu sedikit untuk "sekedar melihat"?
ukhtiex: aslm,ah...walau sdh sering mengalami, yg namanya kekalahan itu ttp sj meninggalkan luka..
Sebutir air tertinggal di telinga saya. Dan ketika air itu meluncur turun, saya merasakan gatal yang bergulir. Muncul pertanyaan dalam batin, kapan terakhir kali saya melihat dengan benar-benar rasa gatal ini?
Sepertinya saya tidak pernah benar-benar merasakan gatal. Sekilas saya merasa gatal, dan secara refleks, tangan saya akan menghilangkan rasa tersebut.
Tapi apa sebetulnya rasa gatal? Apakah saya benar-benar melihat rasa gatal? Atau yang saya lihat hanyalah sebuah label yang dilekatkan pada sebuah sensasi, kemudian secara tidak sadar saya otomatis usahakan untuk hilang?
Jika saya biarkan butiran air itu turun tanpa saya usap oleh tangan, saya dapati bahwa hal itu adalah sebuah sensasi yang sebenarnya tidak memerlukan usaha untuk hilang. Sensasi pengalaman tanpa label "gatal" ternyata hanya numpang lewat untuk kemudian berakhir entah kemana. Datang dan pergi secara alami. Yang membuat saya bergerak untuk menghilangkannya adalah label yang saya berikan terhadap pengalaman itu.
Lalu apa hubungannya dengan sms yang saya terima diawal tulisan ini?
Saya bertanya-tanya, mungkinkah kemenangan dan kekalahan juga merupakan label dari sebuah pengalaman hidup?
Jika label "gatal" membuat saya berusaha tanpa sadar untuk menghilangkannya, mungkinkah label "kalah" juga membuat saya tanpa sadar malu mengalaminya? terbeban menjalaninya? frustrasi ketika hal itu datang dalam kehidupan saya?
Padahal mungkin saja dibalik label-label ini, pengalaman kehidupan terangkai sempurna apa adanya.
Lalu apakah saya pro terhadap rasa gatal? saya menyukai kekalahan? menganjurkan untuk tidak berbuat sesuatu terhadap kegagalan?
Saya hanya memberikan sebuah pertanyaan pada diri sendiri. Bahwa hal-hal yang tidak saya sukai dan saya usahakan -seringkali dengan mengorbankan semua hal tanpa mempertimbangkan yg saya miliki- mungkin hanyalah label belaka. Sementara pengalaman kehidupan yg telah sempurna sedemikian adanya, terkurangi, tersederhanakan, terkotak-kotak oleh "benci" dan "suka".
Ada sebuah cerita tentang seseorang yang berdiri berjam-jam untuk Tuhannya sampai kakinya bengkak. Mungkinkah dia bisa melihat melampaui label rasa sakit?
Ada sebuah cerita tentang seseorang yang mengabarkan kebenaran selama berpuluh-puluh tahun, tapi hanya memperoleh pengikut yang bisa dihitung dengan jari. Apa yang membuatnya terus berjalan? Mungkinkah dia mampu melihat pengalaman kehidupan dibalik label "sukses" dan "gagal"?
Ada sebuah cerita tentang seseorang yang selalu dilempari kotoran ketika lewat didepan sebuah rumah, tapi ketika pemilik rumah itu sakit dia malah menjenguknya. Mungkinkah dia bisa melihat sesuatu dibalik benci dan suka?
...
Sahabat, label apa yang anda lihat saat ini? reaksi apa yang ditimbulkan oleh label itu? bersediakah anda melihat lebih dekat lagi tanpa melakukan usaha untuk menghilangkannya?
Pada sebuah kesempatan memandang diri, saya melihat sebuah pola dalam perkembangan pembelajaran saya. Pola itu adalah "berusaha menjadi". Dalam "usaha untuk menjadi" ada pencarian terhadap kriteria-kriteria sebuah karakter, juga usaha untuk mengenakan sudut pandang yang dimiliki oleh karakter itu.
Saya membaca banyak buku, mencari informasi tentang berbagai tokoh, berbicara dengan orang-orang yang saya lihat mungkin memiliki keidealan itu. Dan kemudian saya belajar bahwa karakter tertentu mengharuskan saya untuk melakukan hal ini, dan tidak melakukan hal itu. Menganjurkan sudut pandang ini dalam pendekatan sebuah masalah dan menghindarkan sudut pandang itu.
Usaha pencarian itu membuat saya mencocokkan diri dengan sebuah karakter ideal yang terikat dengan nilai-nilai yang melekat bersamanya.
Tapi apakah itu pola yang akan terus berlangsung? Apakah pemenuhan atas kriteria karakter ideal itu yang akan membuat saya akhirnya merasa "lengkap" dan "utuh"? Jika saya telah memenuhi seluruh kriteria, dan bertindak serta memilih sudut pandang seperti karakter ideal, akan saya berhenti dan puas?
Mungkinkah kekhawatiran jika saya tidak bisa memenuhi karakter ideal itu terlalu menyibukkan saya sehingga tidak bisa melihat keunikan saya? Mungkinkah, semua usaha menuju karakter ideal itu yang membuat saya asing dengan diri sendiri? Mungkinkah semua usaha menjadi hebat, menjadi keren, menjadi terpandang dan terkenal, adalah kompensasi dari ketidakmampuan saya untuk melihat saya "biasa-biasa saja"?
Dan apakah itu "biasa" dan "unik"? Mungkinkah itu pandangan yang tercipta krn pembandingan keluar tanpa mengetahui apa yang didalam? Jika saya mengetahui "apa yang ada", apakah nilai-nilai perbandingan itu masih relevan?
"berhentilah mencari, maka engkau akan menemukan"
dan inipun akan sekedar menjadi usaha menuju kriteria keidealan jika tidak benar-benar melihat apa yang ada.
sahabat, pernahkah anda melihat karakter anda sendiri tanpa perbandingan terhadap karakter ideal yang anda ingin tuju?
Apa yang terlihat ketika senja hari diamati dengan seksama? Saya melihat warna2 yang muncul di langit krn pantulan sinar matahari. Konfigurasi awan-awan yang membentuk berbagai pola bentukan. Dan gurat-gurat sinar yg menyeruak diantaranya. Matahari dan gradasi yang berganti2 warna secara halus tiap momen.
Dan jika saya perluas pengamatan saya, akan didapati detil2 yang lain. Tak ada batas. Kemudian saya tahu bahwa tidak akan pernah ada senja yang persis sama setiap harinya.
Senja hari terasa sama, ketika pikiran saya sibuk akan hal2 lain. Bahkan senja tak akan terasa, jika perhatian saya ada ditempat lain, merencanakan, memikirkan, mengkhawatirkan. Padahal berjuta benda langit membentuk keselarasan yang berubah-ubah halus setiap detik. Simfoni keindahan yang tak pernah berulang sama disetiap kemunculannya.
Mungkinkah ini juga tidak hanya terdapat pada senja? Bagaimana dengan pagi hari? bagaimana dengan siang hari? Bagaimana dengan malam hari? hidup yang saya jalani?
Yang mungkin terjadi, didalam tiap momen kehidupan juga terdapat detil-detil seperti senja ketika matahari tenggelam. Dan keindahan terangkai hanya jika saya mau mengamatinya. Mengamati tanpa memberi label "suka warna biru", "tidak suka warna lembayung". Karena ketika saya berusaha menghilangkan warna yang tidak saya sukai, maka saya berusaha mengenakan kacamata yang bisa mengubah warna itu menjadi warna yang saya sukai. Ketika saya berusaha memperbanyak warna yang saya sukai dan menghilangkan warna yg tidak saya sukai, maka senja tidak akan indah lagi. Saya tidak bisa lagi melihat warna yang sebenarnya. Keindahan yang telah ada secara apa adanya. Bahkan disaat saya sibuk melabelinya, saya telah terpisah dari detil2 itu.
Kemudian munculah perasaan "hidup yang membosankan", "hidup yang itu-itu saja", "hidup yang tidak lengkap", "hidup yang mengecewakan". tanpa menyadari bahwa saya sendiri yang mengenakan kacamata untuk melabeli tiap pengalaman, melabeli suka dan tidak suka, memperbanyak suka dan menghilangkan tidak suka. Mungkinkah diluar kacamata yang tak terlihat ini, apa yang terjadi adalah detil-detil indah yang memang disiapkan untuk saya?
Selanjutnya saya mencoba mencari pengalaman lain, berlari-lari mengejar pengalaman/pencapaian/benda yang saya kira bakal melengkapi saya. Membandingkan keluar dan semakin kosong didalam. Berdalih ingin merubah keadaan, padahal saya tak pernah benar-benar tahu keadaan yang sebenarnya diluar kacamata kekhawatiran. Mungkinkah jika saya meletakkan kacamata ketakutan, kekecewaan, perlawanan, maka saya bakal melihat bahwa semua telah tersedia disini, disana, dimana-mana?
then... if it is everywhere, it is also...nowhere...
selamat pagi sahabat, pagi ini...apakah masih pagi yang biasa ? Labels: awancool
